Selasa, 11 Oktober 2016

Bittersweet Love

Tak selalu manis memang dalam perjalanan kita. Menyatukan dua kepala tak pernah jadi hal yang mudah. Apalagi kita berasal dari planet yang berbeda. Meski begitu, rindu seperti gerhana yang terus saja datang. Berulang dalam satu ritme yang tak kita baca.

Rentangan jarak, rentangan waktu, dan kesabaran dalam melipatnya perlahan hingga jadi satu, menghasilkan rasa manis, hambar, dan perih dalam satu tangkup.

Adakalanya kita lelah bersabar, keinginan bersama terus meledak-ledak seperti permen petasan yang kita kulum saat kanak-kanak. Lalu menangis seperti bocah yang dihukum tidur siang. Kita kembali menjarak, bukan karena rasa yang memudar, tapi meredakan gemuruh yang sulit mereda. Lalu rindu lagi-lagi merajuk. Jatuh cinta membuat pelakunya seringkali seperti orang gila.

Semoga tak ada yang kita sesali apapun hasilnya nanti.

Selasa, 16 Agustus 2016

Surat Rindu dari Seberang Dimensi

Akhirnya, kita sampai disini. Sudut rindu yang berbeda dimensi.
Aku telah melampaui galaksi. Membiarkanmu diam di sudut pertemuan kita, sendiri.
Kerinduan itu masih sama. Aku meneguhkan hati agar tak luluh dengannya. Aku berperang dengan rindu. Dengan keinginan menyapa, keinginan mendengar, bahkan keinginan bertemu.

Akhirnya, kita sampai disini.
Ketika kita saling rindu tanpa menyapa. Kata-kata, kita titipkan pada angin.
Radarku akan selalu menemukanmu. Tapi kamu, entah apa bisa menemukanku pula. Aku biasa bersembunyi dan tak mudah ditemukan. Kamu tak perlu mencariku sebenarnya. Cari dirimu, dan kau akan menemukanku bahagia. Suatu hari.

Akhirnya, kita sampai disini.
Setelah ratusan pahit, manis, keributan, kerinduan kita alami. Tak satupun dari itu mencipta marah atau benci. Tidak ada. Dan tidak akan pernah ada. Aku tak kan menarik ucapanku : perasaanku akan tetap sama, meski wujudnya berbeda. Kamu boleh membenciku, melupakan, bahkan menganggapku mati. Tapi bahagiamu akan terus jadi doaku sampai ada yang mendoakanmu lebih kuat dari aku. Tak apa meski bukan aku alasan bahagia itu.

Akhirnya, kita sampai disini.
Ketika "aku rindu" tak lagi bisa disampaikan langsung di depan yang lainnya. Kita menitipkannya pada angin. Dan Tuhan. Yang memegang takdirnya.

Akhirnya, kita sampai disini.
Betapapun kita tak ingin. Tak ada salahmu. Tak ada kesalahan padamu. Kamu selalu memberikan yang terbaik dari apa yang kuinginkan. Kecuali satu hal, kamu harus menemukannya sendiri. Satu hal yang tak mengarah padaku, tapi dirimu.

Akhirnya, kita sampai disini.
Keputusan terberat yang kuambil untukmu. Kamu tidak akan sampai kemanapun jika aku masih disana. Aku sudah membuka pintunya berkali-kali, dan kamu tak pernah mau pergi. Maka biar aku hancurkan saja, biar kamu tak punya pilihan kecuali terbang. Terbang yang tinggi, yang jauh pun tak apa. Kokohkan sayapmu, sekokohnya, dan kembali lagi jika rasamu masih sama. Semoga saja tidak terlambat, karena aku tidak akan menunggu. Atau datang lagi, dengan sayap lain yang menyempurnakanmu lebih baik dari aku.

Akhirnya kita sampai disini. Ketika rindu hanya terdengar oleh diri sendiri.
Aku harus menguatkan hati, agar kamu bisa lebih ringan membentangkan sayap. Jangan lagi memanggil mendung. Jangan menurunkan hujan. Jangan memanggil badai. Karena aku takkan kembali dengan sengaja. Kamu kuat, dan aku tahu itu.

Jumat, 12 Agustus 2016

Sederhana

Apa yang tidak sederhana tentang kita?
Permulaan yang biasa saja,
Perasaan yang tumbuh tanpa terencana,
Kita tak pernah tahu akan saling jatuh..
Ada bahagia, airmata, dan semuanya..
Hanya cerita-cerita klise seperti pada umumnya.
Tak ada yang luar biasa bagi kita
...
Tidak ada...
...
Kecuali tentang seberapa sulitnya kita jadi satu..


Seluruh gula telah dibawa pergi angin malam tadi
Lalu kita bagaimana?
Juga akan saling pergi perlahan?
Merentangkan sayap kita ke tempat yang lebih seharusnya.
Kita telah saling melemparkan pamit berkali-kali
Sekarang kah?
Ketika kita sudah terlalu biasa untuk saling menghormati
Kita saling berbalik dan pergi
Biasa saja
Tanpa sakit hati

Mungkin suatu hari akan ada senyum getir
Atau justru senyum lega bahagia?
Kita tak saling tahu..
Tapi kenangan, biar antarkan pesan dengan caranya

Kita terlalu sederhana

Senin, 08 Agustus 2016

"Biar Kuantar"

Ah, hujan baru saja reda. Langit masih menaawarkan aura syahdu. Ada khawatir yang tiba-tiba. Hujan benar-benar telah reda, atau hanya tertahan beberapa jenak saja?

Kamu masih terdiam sejak semalam. Merungut karena aku menghilang hampir seharian. Bahkan kucing pun kalah manja jika perbandingannya kamu. Segelas kopi kusajikan di meja ruang tamu. Matamu masih terpaku pada layar tablet, membaca sederet berita hari ini. Sambil duduk bersandar pada sofa.

"Selamat pagi..." sapaku seraya melingkarkan tangan pada bahumu yang masih saja kaku.
Kamu diam, aku mengambil tempat di sisimu. Menyelesaikan riasan seperti biasanya. Sebotol minyak wangi kuambil dari dalam tas. Aku hampir memakainya ketika kamu menahan tanganku, seraya berkata, "Jangan terlalu banyak," matamu masih saja tak lepas dari layar di tanganmu. "Tanpa itu pun kamu sudah menarik."

Aku menahan tawa. Kamu mengatakannya dengan suara dingin. Kusimpan lagi botol minyak wangi itu. Tidak jadi. Sebuah wedges hitam kupakai dan selesailah sudah persiapan pagi ini.

"Mau antar, atau aku pergi sendiri?" Tanyaku sambil berdiri. Sambil tersenyum lucu dengan sikap diam merajukmu.
Kamu meletakkan tabletmu, menyeruput kopi sedikit, dan pergi. Tak lama suara mesin terdengar, seolah ganti suaramu yang terlalu gengsi untuk sekedar mengatakan, "Mana mungkin kubiarkan kamu pergi sendiri."

Selasa, 19 Juli 2016

Rindu

Rindu itu bukan perkara sederhana.

Memang menyenangkan menanam rindu, menyiraminya perlahan dari waktu ke waktu. Membiarkan ia tubuh subur, lebat, sampai satu waaktu, si empunya rindu datang dan memanen segalanya. Rindu jadi indah bila begitu.

Tapi ada waktu, dimana rindu jadi luka yang menganga. Waktu yang tiba seperti amplas yang mengikis perlahan, membuatnya semakin lebar saja. Air mata yang jatuh berusaha mengisi lubang itu hingga penuh, kesibukan, aktivitas, semuanya sekedar untuk menutup rindu itu rapat-rapat.

Beberapa rindu, tak sempat dijemput pemiliknya.
Tak kan bisa dijemput pemiliknya.

Dan rindu kita salah satunya.
Rindu yang digilas waktu, dan hanya bisa sembuh dengan waktu.

Sabtu, 16 April 2016

Serpih Rasa

Sepuluh jemari
Dua tangan
Setangkup rasa

Yang menelusup lewat celah jemari
Satu-satu
Terbang terbawa angin
Tanpa terasa

Genggam tangan kita
Yang kadang kendur, kadang kokoh
Keyakinan hati dan ragu
Yang berganti-ganti seiring waktu

Meninggalkan kita,
Dan serpihan rasa
Yang diarak angin entah sampai dimana
Bersatu di sudut kota
Atau terpencar selamanya

Sabtu, 09 April 2016

Kebesaran Hati

Beberapa cinta mungkin membutuhkan kebesaran hati
Ketika melepaskan bukan karena kekerdilan niatan
Ketika ketulusan tak hanya sekedar mendatangi
Ketika mengembalikan kepada arus waktu bukan karena tipisnya keseriusan

Sebab kita sama tahu, ada cinta lain yang lebih pantas dijaga
Lebih pantas dari memperjuangkan perasaan kita
Suatu hari, hati kita akan bertemu hati lainnya yang membawa sinar mentari kepada hati
Atau alir waktu kan mempertemukan kita lagi dengan cara yang lebih murni

Sabtu, 19 Maret 2016

Hujan, Malam, dan Kamu

Zrass...!
Deru hujan bergemeletuk di atas atap rumah. Berkolaborasi dengan angin yang berhembus dalam melodi tanpa ritme. 

Dingin.
Ada yang meremang di balik lembar baju. Sehelai selimut kurapatkan hingga menyisakan kepala. Memberi ruang bagi mata menikmati layar televisi yang tersaji.

Malam melarut bersama hujan. 
Aku terlarut ke dalam rindu.
Tentang kamu yang muncul dari balik deras hujan. Dengan rambut berbasah-basah dan wajah yang sumringah. Aku yang sumringah. Di satu tempat janji temu, dimana kemungkinan kau tiba hanya seperti lapis kertas agar di permen susu gambar kelinci. Tapi kau tiba.

Deru hujan. Deru memori.
Dingin malam. Dingin rindu.
Dan kamu, kabut masa lalu yang mengajarkan arti rela.

Kamis, 17 Maret 2016

Selarik Angin

Langit dan awan yang patah
Harap dan asa yang merapuh
Bait kata yang beku
Warna yang tak berpadu

Jembatan yang putus tali satu-satu
Sebatang kayu yang rebah
Melintang di atas alir sungai
Antara dua tanah berseberang

Rayap yang mengerogot dari dalam
Badai di belakang
Reriak sungai di bawah kaki
Dan singa di muka

Lebam
Remuk
Tinggal patah

Pada selarik angin
Aku menitip sisa asa..

Sabtu, 05 Maret 2016

Kafe

Secangkir kopi panas
Segelas susu hangat
Hujan deras
Dan gadis di satu sudut

Krim putih
Setangkup es krim
Butir air yang leleh
Suara yang terbungkam

Dua gelas minuman
Satu camilan
Dinginnya hujan
Dan gadis yang sendirian
Di satu kafe
Memutar kenangan

Rabu, 24 Februari 2016

Satu Hari di Februari

Selamat siang,
Matahari bersinar tak terlalu garang. Hujan baru saja berhenti, menyisakan genangan air di sana-sini.
Aku berjalan sambil menatap tanah. Berhati-hati atas setiap langkah. Rok yang kupakai sedikit lebih panjang dari seharusnya. Sementara, aku masih mengharapkan pertemuan kita. Mungkin di ujung hari nanti, kau tiba-tiba bisa. Hahha...
Aku tak mau menemuimu dengan rupa yang tak sempurna.

Ular besi berderik di lajurnya. Aku sendiri. Tahun lalu selalu ada kamu, duduk di sampingku. Mengganggu setiap kali aku menyandarkan kepala ke jendela.
"Buat apa ada aku, kalo kamu lebih memilih tidur daripada bicara," ujarmu sambil merajuk. Wajahmu lucu. Lalu kamu malah diam mendengarkan sampai aku kehabisan ide. Begitu terus sampai kita tiba.

Ada cokelat dingin di tanganku. Dan satu bar cokelat batang di tas. Semuanya kubeli sendiri. Padahal ini Februari. Siapa peduli? Toh kamu bukan laki-laki romantis dengan cokelat dan bunga. Dan akupun perempuan yang akan terkikik geli kalau kau berlaku begitu.
Temani saja aku ke perpustakaan. Kita diam saling berhadapan. Atau bersebelahan juga tak apa. Aku sibuk dengan barisan kata, dan kau dengan headset di telinga. Menghabiskan waktu berdua. Itu lebih membahagiakan daripada sebatang cokelat yang diklaim lambang cinta. Kau mau membuatku gendut, hah? Hahha...

Hei, siang ini kamu sedang apa?
Selalu aku yang lebih banyak bicara. Katamu, "Laki-laki penuh misteri itu menarik. Kalau aku bicara banyak, nanti kamu bosan dan menjarak."

Ah. Itu kan asumsimu saja.

Senin, 22 Februari 2016

Sisa

Malam ini padang ilalang menyanyikan lagu sendu
Tentang rindu yang tak pernah tiba pada tuju
Tentang rasa yang dibiarkan larut dalam masa
Tentang cerita yang akhirnya tak sesuai cita

Ada bayang yang menari dalam memori
Sebuah sosok yang menjelma jadi penjaga
Bersama senyum dan rengkuh yang mencacah ragu
Namun satu kepastian tak selalu berarti kebahagiaan

Selamat senja, malam...
Sebentar lagi layar pentas akan terhempas
Mana peduli tentang ampas-ampas yang masih mengentas
Cerita kita akan selesai seperti serbuk kopi di dasar gelas

Jumat, 12 Februari 2016

Orang Baik

Satu tahun satu hari sejak terakhir kali blog ini diupdate...
Hai, apa kabarnya? Kamu yang tak sengaja melintas, kamu yang sekedar iseng membuka lagi, kamu yang mungkin ingin tahu kapan ada hal baru lagi disini, kamu yang diarahkan takdir dan menelusuri baris kata ini lewat mata. Siapapun kamu, apa kabarnya?

Ada banyak hal yang berubah dalam setahun ini. Tapi pada dasarnya kita selalu punya beberapa hal yang tak berubah. Kombinasi yang menjadikan kita tetap "kita".

Hari ini aku berpikir, bagaimana "baik" sama halnya dengan kata "cantik" atau arah mata angin. Terlalu relatif dan tergantung dari mana kita berdiri. Dari arah mana kita memandang.

Mungkin bukan "baik" yang relatif. Mungkin "kurang baik" yang relatif. Atau "salah" yang relatif? Aku masih sulit percaya bahwa "orang jahat" itu ada. Entahlah. Aku masih saja naif. Kalau boleh memilih, aku memilih untuk tak menemui satu diantaranya. Meski mereka benar ada, lebih baik aku tak tahu. Entahlah. Mungkin aku yang terlalu sederhana.






Rabu, 11 Februari 2015

Mengurai yang Terpilin

Pertama, 
Hal-hal yang berpotensi merepotkan di kemudian hari HARUS segera diselesaikan. Menemani seringkali BERBEDA dengan membantu. Ada saatnya dimana kita justru harus selesai lebih dulu selesai untuk membantu lebih banyak. Seseorang mungkin tak merasa begitu tertinggal meski kita selesai duluan. Jadi, selesaikan selagi BISA dan LUANG. 
Akan ada banyak hal yang datang di kemudian hari.
Kedua,
Mimpimu TIDAK datang dari orang lain!
Jadi, bermimpi TIDAK sama dengan berusaha. Mimpi HANYA-lah daya mula yang membantu kita berusaha. dan BUKAN usaha itu sendiri.
USAHA-lah semaksimal kamu dan belajar bersuka dengan pencapaian orang lain. Saat seseorang meraih "mimpi" mu lebih dulu, jangan jatuh, tapi berlari lebih cepat lagi. Dan jangan pernah lupa melibatkan ALLAH. Biarkan Allah melengkapi bagian yang tak bisa kau penuhi meski TELAH berusaha se-MAKSIMAL yang kamu bisa.
Ketiga,
Syukuri dan percayai siapapun yang berdiri di sisimu, serta hargai cara apapun yang dia gunakan untuk membantumu. Jangan berpikir terlalu jauh, sebab bukan tentang "siapa" dia, dan "apa" yang dia beri, tapi tentang dialah satu dari NIKMAT yang Allah turunkan padamu. Dan sudah menjadi tugas kita mensyukuri nikmat-Nya.
Maka "Uhibbuk fiLlah" adalah tentang mencintai nikmat-Nya, bukan personnya. Dan ZUHUD adalah tetap bersyukur dan merasa cukup tanpa melihat kuantitas nikmat.

Jumat, 09 Januari 2015

Menggenggam Kembali Takdir

Bagaimana kita mendapatkan kembali apa yang kita impikan selama ini,
bagaimana kita menjadikan segalanya sesuai dengan kondisi ideal kita,
bagaimana mengembalikan diri kita ke jalur yang seharusnya.
Mimpi-mimpi itu masih menunggu untuk diwujudkan, seperti bayi yang menunggu hari kelahirannya,
Maka seharusnya, kita juga berjuang demi kelahiran dalam kondisi terbaik.

Cinta.
Dalam banyak hal hanya mengganggu pencapaian takdir yang kita mau
Kecuali saat orang yang datang merupakan orang dengan ritme dan tuju takdir yang sama.
Selebihnya? Proporsi rasa dan cinta yang lebih banyak, ditambah -entah- keimanan yang rapuh, atau prinsip yang tak teguh, hanya melahirkan pejuang-pejuang yang layu terhempas gelombang cinta.
Membosankan.

Cinta,
dalam waktu dan proporsi yang tak tepat, hanya membawa kita semakin jauh dari takdir yang kita pilih di mula. Saat idealisme masih jadi tongkat penyangga. Saat mata kita masih melihat ke satu arah dengan optimisme yang membara.

Maka, dalam banyak misi, membawa cinta adalah sebuah kesalahan. Jika cinta yang dibawa hanya kecintaan pada sebuah sosok, bukan pada isi, tujuan, apalagi pada Dzat Tertinggi.

Takdir.
Adalah tetugas mulia yang muncul saat kita berada pada puncak idealisme. Saat segalanya tampak mungkin dan bisa. Lalu perlahan realita membawa kabar buruk ke permukaan. Memupus asa, dan menjadikan ketidakmungkinan terasa nyata.
Tapi Cinta adalah musuh takdir paling jahat. Ia datang, mempesona, dan meluruhkan satu-satu idealisme yang dibangun lama. Bahkan mengabaikan banyak hal. Nasehat dan kesadaran keimanan. Sekali lagi, bila landasan cinta itu hanya sebuah sosok, landasan yang rapuh luar biasa. Dia mengikis keimanan perlahan. Mematikan nalar, menggelapkan nurani.

Lalu apa yang tersisa?

Sementara takdir adalah tetugas mulia, yang mesti dijalankan dengan nalar yang mampu memandang jauh. Sementara takdir adalah tetugas mulia yang bisa dijalankan dengan keimanan pada Dzat Yang Maha Tinggi. Jika kedua hal itu mati, lalu apa yang tersisa?

Rabu, 07 Januari 2015

Hilang

Urus-urusan tentang cinta memang menyeret nalar dan rasa jauh dari logika. Tak selalu, tapi seringkali begitu. 
Entah bagaimana, semakin sering saya mendengar kata itu dari seseorang, semakin mati rasanya hati saya merasakannya. 
Takut. Ya, mungkin saja itu bentuk takut saya. Takut akan sesuatu yang biasa mengiringi sebelum waktunya. Begitu takut sampai khawatir salah-salah saya jadi bagian yang terseret itu.
Ada banyak kata yang saya telan. Sebagai pertahanan. Tapi beberapa waktu belakang, sepertinya sedikit pertahanan saya melemah. Pertahanan yang saya bangun hampir tiga tahun, hampir rubuh dalam beberapa hari. Lalu, setelah tahu beberapa hal, perasaan itu hilang begitu saja. Mati lagi. Saya ketakutan, bahkan sekedar untuk melihat kemejanya saja saya sudah hampir putar arah. Jadi, tarik napas dan palingkan mata, menuju mentari yang lebih meminta perhatian kita. Pada genggaman yang mulai melemah minta dikuatkan.
Saya takut, dan pilihan untuk berpaling dari semua romantisme cinta dan euforianya adalah cara saya menahan diri. Mengikat monster manja yang semakin minta dilepas seiring pertambahan usia. “Sudah waktunya” kata mereka. Tapi saya lebih memilih untuk tetap tak melihat kepada romantisme absurd. Memilih untuk tak melihat kepada janji-janji kebahagiaan yang mungkin jadi impian setiap gadis.
Ini sudah hampir 6-7 tahun sejak terakhir saya membaca cerita-cerita romance, dan yang berubah dari saya hanyalah bisa membariskan “kata itu” dalam tulisan, tapi tak pernah sanggup melisankan. Masih tak menerima, meski tak memungkiri. Saya hanya memilih untuk membuka cerita semacam itu, juga membuka hati untuk merasakannya lagi, nanti, setelah sebuah prosesi sakral di depan mata. Enggan saja memulainya dari saat ini. 
Saya masih tetap sama, menjaga semuanya tetap seperti mulanya. Tak menguncup, apalah lagi berbunga.
Meski di sisi lain juga sadar diri : Siapa saya?

Senin, 15 Desember 2014

Pertemuan

Sampai saat yang ditentukan menjelang perjumpaan, kita hanya mesti bersabar kan?

Terhadap segalanya.

Setiap kita telah sama tahu mana yang merupakan prioritas yang mesti kita jalani lebih dulu. Tentang amanah dan segalanya. Tapi kamu tak hilang kan? Kita sama punya sepasang mata lagi yang kita letakkan di punggung. Saling tahu apa yang saudaranya lakukan, meski tampaknya tak acuh. Kita sama punya sepasang telinga yang kita simpan di hati yang lainnya. Saling tahu apa yang dirasa meski tak cukup waktu duduk bersama.

Kamu tahu, aku rindu. Sangat.

Tapi perjumpaan kita yang sekelebat. Meski tak bisa dikatakan memuaskan, aku juga harus bisa belajar cukup. Kamu tak hilang kan?

Pada awalnya kita membutuhkan yang lainnya. Mungkin lebih banyak aku. Membutuhkan perhatian, sapaan, pemberian. Dan sebagainya. 

Sampai di satu titik, aku tahu menunggumu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan, membosankan, dan menguras kesabaran. Kesibukanmu yang melangit, dan segalanya. 

Maka pada titik ini, aku membalik kebutuhanku. Bukan untuk menambah bebanmu. Bukan untuk menambah urusanmu. Tapi seperti Harun kepada Musa, biarlah kebutuhanku menjadi kebutuhan untuk membantumu. Seperti Harun kepada Musa. Biarkan aku menjadi Harun. Sahabat terbaik yang kau punya.

Maka dengan kebutuhan seperti ini. Waktu yang kau beri untukku tak lagi jadi soal. Asal melihatmu sehat, semangat, dan semakin luar biasa. Maka cukup. Asal kamu percayakan sebagian urusanmu padaku, maka cukup. Pada titik ini, segala harap akan pemberianmu untukku tak lagi jadi soal. Tak lagi jadi kebutuhan.

Biar setiap pertemuan kita lebih banyak berisi tentang "kamu" daripada "aku".

Jumat, 31 Oktober 2014

Malam (part 1)

Malam lagi. Hidup tak lain adalah pergantian siang dan malam. Cahaya dan kegelapan yang beriring. Seperti pasangan sepatu. "Selalu bersama, tak bisa bersatu". Hahha, perumpamaan ini sedang marak sejak beberapa waktu belakangan. Tapi tak apa, cahaya indah dengan caranya. Pun dengan kegelapan. Siang indah dengan caranya, dan begitu pula malam. Sebab ada yang satunya, maka yang lain jadi indah. Sebab ada yang satunya, maka yang lainnya jadi bermakna.

Malam selalu membuatku jatuh cinta. Bukan kepada seseorang, tapi kepada malam itu sendiri. Seluruh penghuni rumah sudah mulai terlelap. Kamar-kamar lain sudah mulai sepi. Suara-suara riuh khas anak kost semakin redup seiring malam yang semakin larut. Aku ditinggalkan bersama malam. Dengan sebuah jendela yang terbuka lebar, menyajikan gemintang di kanvas langit. Segelas coklat panas masih anggun berdiam di dalam cangkir. Asap harumnya mengepul. Benar-benar tak memberi pilihan untuk menolak. Lampu kamar terpantul sedikit ke permukaannya. Seperti cahaya yang hadir di tengah kegelapan. Mana bisa ditolak. Aku menyesap coklatku sambil memandang taburan gemintang. Seperti mesis putih di atas black forest raksasa. Waktu seperti ini adalah waktu istimewaku dengan malam. Membincangkan cinta dan segalanya dalam kesunyian.

Aku tak pernah membenci malam. Aku tak pernah terlelap tanpa bicara pada malam. Tak apa meski ia tetap diam. Sajian kerlip gemintang dan semilir angin yang sesekali memainkan anak rambutku, sudah lebih dari mampu memberikan ketenangan dalam tidur. Perjalanan singkat ke luar dimensi manusia. Aku tak pernah lupa menyapa malam, meski hanya "Selamat malam, Malam".

Kamis, 09 Oktober 2014

Titian Pelangi

Yosh. Apa yang bisa diceritakan hari ini?

Ada titian pelangi menuju langit. Katanya di ujung pelangi ada kendi emas. Aku ini manusia yang hidup dalam negeri mimpi. Aku percaya, lalu bagaimana?
Kita memilih apa yang kita percayai bukan?

Hei, selamat malam. Dalam perjalanan kita akan kedatangan banyak warna. Warna-warna harapan. Warna-warna cerita. Warna-warna tantangan. Kita harus meniti semuanya, biar kita tahu bagaimana istimewanya ujung pelangi.

Kalau pelangimu terputus di satu titik. Ciptakan lagi saja warna baru. Perjalananmu tak boleh berhenti hanya karena hilangnya satu garis warna.

Yep, selamat berjalan.
Selamat meniti pelangi.
Selamat menjemput kendi emasnya

Waktu Merindumu

aku tak pernah sempurna mampu merindumu
ada banyak garis halus yang melintang di ruang antara kau dan aku

malam masih saja gulita, menyisakan kerlip gemintang
manis memang, cantik memang, tapi tak cukup mengubah malam jadi benderang

rindu ini seperti bait nada yang belum teraksara
indah memang, tapi tak terasa begitu sempurna

aku menunggu, hingga waktu dimana segalanya bebas kita ungkapkan
aku menunggu, hingga mentari gantikan gemintang dan sinari tempat kita terdiam