Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

I'm Home ...

Hei, Kinara...
Aku kembali, setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Aku mencarimu, menunggumu. Tapi seperti biasanya, kamu memang bukan tipe yang akan datang lebih dulu.
Hahha, lagi-lagi aku yang mengalah. Bukan terhadapmu, tapi terhadap egoku yang terlampau tinggi.

Hei, Kinara.
Sepanjang hari aku bertanya tentang visi. Sejak terakhir kali kita membicarakannya, berminggu lalu. Bahkan mungkin kamupun sudah lupa.
Ternyata memang tidak bisa, Kinara. Kita punya definisi yang berbeda.
Mimpi mungkin telah jadi nafas hidupku, apapun bentuk dan definisinya. Bagaimanapun orang lain menganggapnya tak sesuai  bahkan salah. Aku memang tak bisa melepasnya, Kinar.... Aku hilang seiring dengan arah yang sempat kucoba ubah.

Aku terbiasa memilih, terbiasa menapaki jalan yang kumau dan kusuka. Meskipun yang lain tak melihatnya begitu. Aku selalu memilih, Kinara. Dan tak nyaman menjalani apa yang dipilihkan orang lain.
Aku memilih, Kinara... meski aku tak pernah tampak menolak, tapi sesungguhnya aku telah memilih sejak mula. Maaf jika terkadang aku tampak terlalu sombong. Aku hanya ingin tetap ada di jalur mimpiku. Mimpi yang mungkin lebih sederhana dari mimpimu. Tapi tak apa. Sebab ini aku.

Kinara, apa kabarnya?
kamu hanya perlu tahu bahwa aku tak pernah benar kecewa. Tak pernah sungguhan merasa marah.
Aku hanya lelah, sebab kadang kita bisa jenuh untuk memulai terlalu banyak. Untuk berharap terlalu tinggi. Tapi sampai kapanpun kamu akan selalu tampak luar biasa, dalam definisi yang mungkin hanya aku yang mengerti.

Tidak. Aku akan mulai belajar lagi untuk tak meminta. Sebab akan ada satu waktu dimana kita kan menerima, bahkan sebelum kita meminta. Yep! Aku hanya akan menunggu. Mengenal itu proses yang sangat lama, Kinar... bahkan meski kita telah satu ritme.

Sebab mungkin kita ini pelangi, meski kamu merah, dan aku ungu.

Kamis, 07 November 2013

Almost Midnight

Almost midnight.
Sinyal biasanya berdamai di saat-saat seperti ini. Hahha..

Hei, apa kabar lagi?
Malam ini lagi-lagi aku ketakutan. Entah karena sendiri, sepi, gelap, lelah, atau memang aku yg terlalu penakut. Malam seperti ini selalu mengantar rasa takut yang belum bisa kutemukan akarnya.

Lagi-lagi pikiran-pikiran aneh melintang-lintang di fikirku.
Dua suara bersahut-sahut. Pengang rasanya. Bersuara, atau mendengar. Pilihannya hanya itu. Aku tak suka yg kedua bila tengah sendiri.
Satu suara terus menyalahkan, yang lainnya memberi pembelaan. Keduanya sama tak menyenangkan. Harusnya aku menulis, semuanya lebih mudah saat aku masih menulis.

Ah, apa kabar?
Aku hanya tak ingin menyebut "Kinara" saat ini. Biar saja mereka berlari di jalurnya.
Malam ini rasanya aku malah berjalan ke arah menyerah. Menyeramkan rasanya. Hahha...
Baru kali ini aku merasa "maju" malah tampak jauh.
Sesuatu yang kugenggam nyaris lolos dari sela jari. Genggamanku malah semakin melemah rasanya. Ini konyol. Hahha...
Aku memang penakut sejak dulu, aku memang tak sekuat yang lain sejak lama. Tapi aku tak pernah merasa kehilangan mimpi seperti hari ini.

Aku memang sering sendiri. Tapi tak berarti aku benar2 sendiri. Entah bagaimana, aku selalu merasa ada yang menopangku, meski tak pernah yakin benar.
Tapi hari ini, entah bagaimana aku merasa tak butuh ditopang. Sebab hanya orang yang INGIN kuat yang butuh support.

Hahha,
Tiba-tiba...rasanya seperti kehilangan banyak, tp tak merasa kehilangan.

Menjadi orang biasa-biasa saja itu menyedihkan. Setidaknya itu pikirku.
lalu, apa kabar? Hari ini rasanya aku malah ingin menjadi orang biasa saja.

Jadi, selamat malam.
Semoga fajar cepat datang kembali...
(^-^)

Jumat, 20 September 2013

Evolution

Kinara, semester ini aku terlalu bersemangat.
Kau tahu, dalam evolusi, bagian tubuh yang sering digunakan akan mengalami penyempurnaan dan semakin matang. Sedang bagian lain yang jarang digunakan akan mengalami disuse, tak terpakai, bahkan hilang.

Tapi aku bukan mau cerita tentang kuliah evolusi,  Kinara...
Aku mau cerita tentang kita. Tentang jalan yang telah kita pilih untuk tapaki.

Kinara apa kabarnya?
semoga tak bosan dengan celotehku yang lebih banyak ampasnya. Hahha...

Kinara,
Di setiap tempat selalu ada seleksi alam kan ?
Kita mempertahankan diri agar kita tak hilang.
seperti evolusi, jika penggiat jalan ini diumpamakan seperti satu spesies yang tengah berevolusi, dan kita adalah satu bagian tubuh dari spesies tersebut, maka seharusnya kita bahagia saat sering "dimanfaatkan". Bukankah itu artinya Allah tengah "menyempurnakan" kita?
sebab saat kita berhenti, dan terlalu lama berhenti. Sejatinya kita tengah menghitung mundur waktu hilangnya kita.

Awake

Kinara apa kabarnya?
Doakan saja agar pilihan ini tak akan kusesali suatu hari nanti.
Kita selalu percaya bahwa Allah telah persiapkan hampir segalanya buat kita.

Selama ini mungkin kita terlalu terpaku pada bahwa "kita mampu", Tapi terkadang Allah punya rencana lain yang jauh lebih luar biasa. Ia letakkan kita pada arena yang justru karena "kita tak mampu".

Kinara,
Hari ini aku menyadari bahwa Allah menjatuhkan air dari langit setetes demi setetes. Bagaimana kalau hujan langsung sebanyak samudra, atau danau, atau kolam, atau bak mandi di rumah yang kalau penuh pun tak cukup buat mandi satu keluarga? Bagaimana kalau hujan langsung sebesar itu? Seperti paket dari pegawai jasa pengiriman. Tadaaa! Kiriman dari tuhan, sebuah samudra!

Kinara,
Mungkinkah Allah tengah menurunkan hujan dalam hidupku? Agar aku mengumpulkan tiap tetesnya dan membangun sebuah samudra? Entah untuk siapa. Aku atau yang lainnya.
Mungkin tetesan yang kubawa masih jauh dari cukup. Atau Allah sedang membimbingku ke tukang jahit karena kantung penampung hujanku yang soak?

Kinara,
Malam ini aku menyadari. Bahwa ketika kita jatuh dan remuk. Yang diperlukan adalah menjauh sejenak dari padatnya hingar manusia. Berdialog sejenak dengan diri dan Yang Menitipkan Peran Hidup.
Bahwa saat kita merasa butuh dukungan, tak berarti bentuknya harus pujian. Meski bukan berarti makian. Tapi beberapa patah kata dari hati yang dapat menyentil hati lainnya. Meski tak selalu harus sederet fakta.

Kinara,
Hari ini aku menyadari, bahwa kalimat yang sama bisa dirasakan berbeda ketika yang bicara pun tak sama. Bahkan kalimat yang sangat baik pun bisa melukai telinga ketika tak disampaikan dengan melibatkan hati.

Senin, 26 Agustus 2013

Sayap-Sayap Matahari

Kita sayap-sayap matahari. Yang seharusnya terbang dengan gagahnya. Membelah angkasa, menuntaskan cita. Ada masa memang, dimana titik kelam mencoba mengganggu kemilaunya. Tapi kita... Tetap saja sayap matahari. Yang tertiup angin senja hari, menarikan cita langit.

Kita sayap matahari. Serpih kecil dari angin kehidupan. Tapi tak berarti kita suci. Kita sayap matahari, yang tak henti diuji. Berulang kali. Lagi dan lagi. Hingga saat ujian itu telah lelah menguji. Ia coba mengganggu lewat jalur yang (katanya) dibutuhkan serpih itu. Hingga kemilaunya memudar, menghilang. Sampai ia tak lebih dari sayap biasa. Gugur, dan meranggas perlahan.

Kita sayap-sayap matahari. Menyadari itu dan saling menopang, hingga cita yang kita bawa mampu terbang. Kembali ke angkasa. Kepada Sang Penitip Misi. Kita sayap matahari. Maka mari mengembangkan sayap, perlebar jangkauan. Hingga tak ada celah bagi sang pengganggu untuk masuk dan membuat kita meranggas.

Kamis, 09 Mei 2013

[random post] "Gue Salah"

"Allahumma inni a'udzubika minal 'ajzi wal kasal, wa a'udzubika minal jubni wal bukhl, wa a'udzubika min gholabatiddayni wa qohri rijaal"

Sebenernya gue sadar sesadar-sadarnya kalo ada yang salah sama gue. Sadar banget. Tapi gue pura-pura ga tau. Gue pengen ada orang yang nanya, "Lu kenapa?". Tapi jarang banget ada yang nanya. Terus dulu pernah ada yang bilang kalo orang ga akan paham kalo kita ga ngomong, dan gue sadar kalo gue itu susah buat dipahami. Jadi gue belajar buat bilang hal yang gue pengen orang paham tentang gue. Tapi ternyata, gue masih salah. Hahha...

Kadang gue mikir kalo sebenernya gue ga butuh orang lain. Tapi gue ga suka kalo ada yang salah paham sama gue. Tapi ternyata gue masih salah. Hahha... Salah gue adalah gue ga bisa ngomong secara lugas. Gue tahu banget. Dan gue pun bukannya ga usaha buat ngomong lugas. Tapi usaha gue sepertinya nol. Ketika gue  coba ngomong lugas, hasilnya berantakan, tata bahasa gue kacau. Kaya postingan ini. Ketika gue coba ngomong dengan lebih rapi, orang ga paham maksud gue, kaya beberapa postingan gue sebelum ini. Oke, gue masih salah. Hahha...

Terus kemarin gue memaksakan orang buat paham gue. Gue juga tahu itu salah. Tapi entah kenapa gue ngerasa gue lagi butuh orang buat denger otak random gue. Kemarin gue ngerasa kesalahan gue banyak banget. Dan gue ga sanggup buat denger diri gue terus nyalah-nyalahin gue. Otak gue terus bilang kalo gue salah, dan kalo gue bilang itu pake mulut gue sendiri, sumpah, gue takut. Jadi yang keluar selalu hal yang beda dari yang gue maksud. Gue nyalahin orang, nyalahin keadaan. Dan gue ga sadar kalo gue nyalahin itu semua. Gue pengen nanya, tapi gue ga nemu ada kalimat pertanyaan di otak gue. Jadi gue ceritain kondisinya. Gue harap orang bisa paham yang gue butuh kalo gue ceritain kondisinya. Dan disini, gue salah lagi. Oh my... tahu ga, rasanya gue pengen masuk kelas yang bisa ngasih tahu gue caranya ngomong. Atau ada alat otomatis yang bisa memvisualkan apa yang gue pikirin, apa yang gue maksud.

Tahun ini, orang-orang di sekitar gue punya karakter yang keras. Dan gue selama ini ga pernah dikerasin. Wait, gue bukan mau ngeluh ini. Gue cuma mau bilang kalo ada sedikit perasaan senang karena gue ngerasa ini hal baru. Gue nangis dan kadang gue kesel. Tapi di sisi lain gue seneng, karena itu artinya gue dikasih hal baru yang mesti gue hadapi. Mungkin di masa depan gue bakal ketemu orang yang jauh lebih keras dari sekarang, dan Allah nyiapin gue lewat orang-orang yang sekarang ada di sekitar gue. Jadi, gue mesti bisa ngadepin orang-orang ini, mesti bisa ngeliat matanya, dan mesti bisa santai ketemu mereka. Gue tahu. 

Terus gue pengen cerita ke orang tentang hal itu. Tapi gue bingung. Ga mungkin kan gue bilang, "Ya Ampuun.. Tadi ada orang galak sama gue terus gue takut sampe deg-degan dan pengen nangis lho...!! Dan gue seneng banget!!" dengan intonasi kaya orang bilang, "Ya Ampuun.. lu tau ga? tau ga? Gue menang undian ke Singapore!!!" ditambah mata berbinar-binar dan lonjak-lonjak. 
Kalo gue bertingkah begitu, kemungkinan pertama, orang bakal ngira gue becanda. Kemungkinan kedua, orang bakal ngira gue stress akut sampe nyaris gila.
Nyatanya : Gue emang seneng dengan masalah baru, tapi ga mungkin kan gue curhat dengan bahagia? Itu aneh.
Terus gue pengen nanya apa? Cara ngehadapin orang itu? Terus gue mesti bilang, "kalo orang galak, gue mesti gimana?" Kaya pertanyaan anak SD. Dan gue sendiri pun udah tau jawabannya. Jadi gue mikir, buat apa gue nanya? Toh jawaban orang lain seringkali klise. Hampir selalu malah.

Terus (lagi) kemarin ada orang yang (akhirnya) bilang sama gue dengan jujurnya setelah ngediemin gue lama. Gue lupa apa persisnya, tapi yang gue tangkep adalah dia bilang kalo gue jangan terlalu sering ngeluh, dia bosen karena intensitas curhat gue yang ketinggian, bahasa gue kalo cerita bikin dia bingung, dan entah apalagi. Dan mungkin yang gue tangkep beda sama yang dia maksud. Gue nangis dua hari karena tiga hal: 
Pertama karena yang dia omongin bener. Karena kalo orang ngomong hal yang ga gue anggap bener gue bakal acuh dan bodo amat. Tapi karena yang dia omongin bener dan yang dia omongin adalah hal yang selama ini gue tepis, jadi gue nangis. Tapi ga masalah, dan harusnya gue bilang "Makasih"
Kedua, karena ternyata gue belum maju juga. Hal kaya gini itu bukan pertama kalinya gue rasain. Jadi kalo gue ngerasain lagi, artinya gue belum ada kemajuan.
Ketiga, karena entah dasar apa gue ngerasa gue ga boleh cerita lagi sama orang itu. Dan gue tahu gue salah tentang alesan ketiga. Tapi tetep aja gue nangis.

Terus gue kepikiran doa yang tadi gue tulis di atas. Gue salah, ya gue salah. Karena beberapa waktu kemarin itu cerita sama orang sama sekali ga bikin perasaan gue lega. Malah makin bertumpuk. Harusnya gue sadar lebih cepet kalo yang gue butuh itu bukan telinga manusia buat denger gue. Ketika gue bilang gue sanggup sendiri, maksud gue bukan diri gue sendiri. Tapi gue punya Dzat yang Paling Keren sejagat raya yang selalu mampu ngasih gue energi. Yang selalu mampu negakkin punggung gue lagi. Yang selalu mampu ngasih gue jawaban. Toh sebelum gue deket sama orang, Dia selalu ngasih gue jawaban dengan cara-cara yang juga bikin gue terhibur.
Jadi, gue mikir kalo gue ga butuh orang lain...
Dan jujur, gue ga tahu pikiran gue ini bener atau ga.

Tapi, senggaknya, akhirnya gue bisa bilang kalo "Gue Salah." It's more comfortable ternyata kalo gue bilang gue salah ke diri sendiri atau tulisan. Karena dia ga akan bersuara dan bilang, "Iya Nath, lu emang salah!" Kata "emang" itu kadangkala ngeselin. Hahha...

Oke, cukup postingan random dan egoisnya. Hahha 
Semoga saya jadi semakin ringan dan bisa bergerak cepat setelah ini. 
^^

Senin, 06 Mei 2013

Make Your Choice



Pilihan akan datang, dengan atau tanpa kita memilih

Saat kita tak mampu memilih, maka orang lain yang akan memilihkan untuk kita. Saat kita terlalu takut untuk memutuskan, maka orang lain yang akan memutuskan. Saat kita terlalu nyaman untuk berhenti, maka orang lain yang akan menghentikan. Semuanya sederhana. 

Saat zona nyaman terlalu lama membalut hari-hari kita. Hingga sadar ataupun tidak kita terlaru larut di dalamnya. Seperti garam dan air. Hingga meskipun sadar, tapi kadang terlalu masa bodoh. Berpura-pura seakan tak ada yang salah. Berpura-pura tidak tahu. Maka orang lain yang akan memaksa kita untuk berhenti.

Sebab tanpa sadar memang itulah yang kita harap-harapkan jauh dalam hati. Hanya terlalu cemas untuk mengakui. Saat kita ingin berhenti dari langkah yang lama. Tapi terlalu takut untuk berhenti dengan kaki sendiri. Tuhan punya cara lain untuk menjawab doa. Orang lain mungkin tak tahu, tapi Tuhan tahu, dan tak ragu untuk menjawabnya. Sebab mungkin Ia tahu bahwa itu yang baik untuk kita.

Saat kita terlalu takut keluar dari zona nyaman kita, maka dengan cara-Nya, melalui perantara orang lain, Ia akan mengeluarkan kita dari sana. Demi kita sendiri, untuk kebaikan yang kita pun tahu. Hanya saja, kadangkala caranya membuat kita sedikit mengeluh. 

Jadi, tenanglah... Ia hanya menjawab apa yang kita butuh.
Jadi, tenanglah... sebab sesungguhnya kita telah siap untuk maju.
Jadi, tenanglah... sebab Tuhan kita tak pernah berlalu.
Jadi, tenanglah... berhenti mengeluh, lalu percepat langkahmu.
Jadi, tenanglah... dan tetap tersenyum, karena sesungguhnya Ia tahu kita mampu.



Selasa, 18 Desember 2012

Melepas Batas



Tanpa terasa ini sudah tahun keempat sejak aku menetapkan batasan itu : 
"Enggan menjadi dewasa. Enggan kehilangan sifat kekanakan"
Mungkin aneh, kebiasaan mengamati orang lain membuatku memutuskan untuk membuat batasan itu. Karena setiap orang yang memutuskan untuk "Menjadi dewasa" selalu terlihat berat. Selalu terlihat seakan langit di bebankan ke pundaknya sendiri. Terlihat seakan-akan hanya ada satu pundak yang mampu menjaga bumi tetap pada porosnya. Selalu terlihat lelah, temperamen, dan hilang senyum. Okelah, kalaupun ada seringkali senyumnya terasa kosong. Formalitas. Dan hal seperti itu benar-benar tak sedap dipandang mata. Dan terasa menggangu siklus kehidupan, menyerap segala keceriaan yang ada. Dan itu benar-benar menyebalkan.

Selasa, 04 Desember 2012

"Allah Tahu dan Sudah Mencatat Niat Kakak..."

"Ketika kita berusaha lebih dan tetap bersyukur atas apa yang terjadi, mungkin itulah yang dikatakan ikhlas."

Dulu....
Dulu sekali, saat itu aku berniat mengikuti sebuah acara. Entah tarhib ramadhan, konser kemanusiaan, aksi solidaritas, atau kegiatan lainnya semacam itu. Ada lebih dari dua orang anak kecil di rumah, dengan persiapan yang tentu saja memakan waktu lama. Membosankan, dan benar-benar menguji kesabaran.

Waktu persiapan yang lama, belum pula perjalanan yang panjang. Ini Jakarta. dengan tingkat kepadatan jalan yang benar-benar menyebalkan. Dan benar saja, begitu sampai disana, yang kudapat hanya penutupan. 
Kesal? Tentu saja. Sebal? Apalagi. Tangis? Sungguh, itu tak tertahankan. Meski enggan menyalahkan saudara sendiri, tapi rasa kesal itu benar-benar meluap tak terbendung. Aku terisak. Menahan perasaan agar tak keluar menjadi pertengkaran. Berulang kali meraung, sedih.

Abi mengangkatku, mendudukkanku di gendongannya. Berjalan perlahan sambil menuntun adikku yang lain dengan tangan satunya. Berulang kali aku menghapus air mata. Terlalu gengsi menangis di tempat setinggi itu. Lautan manusia mulai berbalik arah. Acaranya sudah selesai. Beberapa menoleh ke arahku yang masih tersedu di bahu abi. 

"Kakak turun." Ujar umi. Selalu terdengar seperti akan marah. Meski hendak menolak, tetap saja tak pernah bisa.
Abi menurunkanku perlahan. Aku berdiri di atas rumput. Masih sibuk menghapus airmata yang tak kunjung berhenti. Abi menepuk bahuku lembut, yang malah membuat airmata semakin deras mengalir.

"Kakak mau ikut. Kakak mau ikut.." Ujarku berulang kali sambil terisak. 

Jumat, 26 Oktober 2012

Rechange! Upgrade!

"kalau mau membenahi orang lain, benahi diri sendiri dulu lah..."
"bantu diri sendiri, biar bisa maksimal bantu orang lain.."

Akhir-akhir ini kalimat di atas kerasa "jleb" banget.
Kalo jaman sekolah dulu ada yang namanya Program Diet, sekarang juga pelan-pelan mau berubah. Program Pembenahan Yaumiyah kali yaa... Hahha..
Kemarin sempet pengakuan dosa sama temen, dan memang tampak kalo dia agak "amazing" pas tau tingkah temennya yang satu ini.
Oke, anggap saja itu masa lalu.

Balik ke topik..
Sejauh ini udah ada beberapa program yang mulai dijalanin. Yah, meskipun masih "di balik layar".
Dan namanya juga Di Balik Layar, jadi masih ketutupan. Bahkan mungkin belum ada yang liat progress nya...
Kalo ada "RUJAK-RUJAK"an pun belum kesebut juga.
Namanya bayi masih guling-gulingan.
Kalo istilah dunia hiburannya, masih "training", belum "debut". Kalo ga sengaja ada yang liat yaudah... tapi masih malu juga sih...
Nanti lah kalo udah semakin baik, mungkin baru bisa diungkapin pas "RUJAK" gitu...
Hahha...
Maaf ya, kawan...
^^"a

"Kalo mau benahi orang lain, mulai dari benahi diri sendiri dulu"

Siap mbak!
Dalam proses...
Insya Allah 10 lembar yang hilang kemarin akan saya kumpulkan lagi.
Semoga sekali ngumpulin langsung sebundel..
Dan ga terbang lagi...
Hahha..

Saya mau mulai dari balik layar dulu yaa...
mau semedi. mau memperkuat imun dulu, biar pas "debut" gak mengecewakan...
:D

Selasa, 09 Oktober 2012

Paused

"Berhenti sejenak"
Berkali-kali terfikir tentang ini. Saat segalanya mulai tak sejalan dengan perkiraan. Berat. Memang.
Lalu saat kejenuhan itu rasanya mulai tak tertampung lagi, seperti gelas yang terus menerus diisi air, semakin lama ia akan kelebihan muatan. Lalu?
Ya, tumpah...

Rasanya ingin berhenti sejenak. Gelasnya terasa begitu keruh. Terisi dengan berbagai hal yang menghijab cahaya. Ya, pekat..
Namun, seringkali Sang Pengamat tak sejalan dengan apa yang kita mau. Yang melihat dari ketinggian tentu saja tahu bahkan kepada detil yang tak dapat kita lihat. Saat itu, tiba-tiba tersadar bahwa manusia begitu kecil. Terlalu kecil untuk tahu gambaran keseluruhan jalan hidup ini. Terlalu kecil untuk dapat melihat apa yang ada di balik gunung besar masalah yang saat ini terpancang di depan kita. Tapi Allah yang berada pada ketinggian, pasti mampu melihat apa yang dihijabi gunung besar itu. Maka Ia bisa memberi kita sesuatu yang dapat membantu kita. Meski, akan ada lebih banyak energi yang dibutuhkan. Akan lebih banyak waktu yang dikorbankan.

Berhenti sejenak.
Dan mengembalikan diri ke zona nyaman?
Tak jarang nasihat itu datang, "Lalu, setelah kamu berhenti, apa kamu yakin akan dapat kembali lagi, dan menjadi lebih baik?"

Lalu Allah "memaksa" gelas itu untuk dapat menampung lebih banyak air. Menuangkan banyak kesibukan alih-alih membuat kita berhenti bergerak. Tapi "air rabbani" pastilah jernih. jadi, kita hanya perlu terus maju, dan membiarkan Allah menuangkan lebih banyak air jernih ke gelas kita yang keruh. Suatu hari, air keruh itu akan menjernih perlahan. 

Belajar, tak harus mengulang segalanya dari awal. Tak harus berhenti untuk mengkaji. Kita bisa belajar sambil mengajar. Bisa membaca sambil berjalan.
Satu hal yang pasti....
Saat segalanya terasa berat, kembalikan lagi segalanya kepada Pemiliknya.

Ganbatte ne~~

Kamis, 13 September 2012

Kali ini, untuk hal yang sulit dikatakan

"Ikhlas itu ada tiga : di awal, tengah, dan akhir."
"Sabar itu tak berbatas..." seharusnya begitu. bagaimanapun aku ingin percaya dan selalu mencoba yakin bahwa memang sabar tak berbatas... namun... apakah ia tak bisa terganggu?
"Kak, bagaimana kalau tiba-tiba keikhlasan itu terganggu?" tanyaku ragu.
"Muraqabatullah" jawabnya, sederhana.

Sesungguhnya aku bukannya tak tahu, hanya kadang...saat ada sisi hati yang sedikit tersinggung, yang terjadi malah sebaliknya. Ketika pengorbanan rasanya tak terlihat memberikan hasil. Ada sisi hati yang mulai ragu ... "salahnya dimana?", lalu ketika kesalahan tak ditemukan dalam diri sendiri, malah kecewa yang hadir, "kenapa ia tak kunjung menunjukkan peningkatan?"
Lalu rasa lelah mulai merayap...perlahan-lahan. menggerogoti hati yang susah payah dijaga biar tak keruh.
Aku sempat berfikir untuk pergi.
Banyak hal kalau mau dijadikan alasan. Semakin hari alasan itu pun semakin banyak dan terasa menguat.

Duh Allah... Duh Rasul...
lantas, salahkan aku?
perih di dalam sini, bukannya tanda bahwa ada hati yang tergores? luka kecewa? atau dosa karena berburuk sangka?

Jumat, 17 Agustus 2012

Menjarak Sejenak

Ikhlas....
kadang saya bingung dengan definisi kata itu.

Syukur....
apalagi tentang yang ini.

Kerapkali saya diam, mencoba mengulik apa yang sedang dirasakan hati. Ah, atau mungkin saya terlalu banyak berlogika, lantas menempatkan perasaan dan logika dalam porsi yang masih timpang?
Lagi-lagi tentang seseorang, yang hingga saat ini saya masih belum tahu jawabannya. Atau saya yang kerap kali membantah jawaban yang sebenarnya saya tahu? Ada sesuatu yang dia miliki, dan itu tidak ada pada saya.

ini tentang seseorang yang begitu cemerlang, sampai saya merasa bias saat bersamanya. Sampai saya merasa ragu untuk bercerita, sekedar melayangkan tanya, "apa yang sungguh membedakan saya dan dia?" pada orang yang mengenal kami berdua.
dia cenderung sederhana dalam bersikap jika dibandingkan saya yang mungkin cukup kompleks bagi sebagian orang. caranya berbicara pun lebih ramah dan kekanakan dibanding saya. ini bukan berarti saya kaku, hanya saja, dalam beberapa kondisi dia tampak lebih "perempuan" dibanding saya. disamping itu, dia juga lebih keras kepala dan moody. Yah, saya memang lebih terlihat tenang memang, terlampau tenang malah, sampai banyak orang mengira saya hampir tak pernah terlihat marah atau tak menyukai sesuatu.

dia baik, cantik, lembut, dan sedikit kekanakan. mungkin itu hal yang diperlukan untuk membuat banyak orang "terkesan" sejak pandangan pertama. Mungkin itu hal yang membuat banyak orang mudah merasa sayang dan ingin melindungi.

Jumat, 30 Maret 2012

Sesuatu yang Begitu Dekat

Ga banyak hal yang bisa diungkapkan secara tepat.

Hari ini, hari Jum'at. Semua berjalan seperti biasanya. Bangun agak siang menikmati satu jam waktu sebelum kuliah. Berangkat agak siang, dan belajar sebentar untuk kuis praktikum hari ini. Biasa saja. Hanya ada beberapa hal yang sedikit berbeda, laporan yang sudah dikerjakan sejak lama, dan sms untuk turun aksi ke inbox yang datang dari banyak orang.

Semua biasa saja. Hingga sekitar pukul 10 kurang beberapa menit. Di tengah kegiatan praktikum yang sesekali diselingi canda seorang teman menghampiri, "Runa, Sekum Serum-G meninggal!". Setengah tak percaya, rasanya ada sms dari beliau juga pagi tadi. Penasaran aku membuka ponsel, memeriksa inbox, dan tak ada namanya disana. Apa tak sengaja terhapus? gumamku. memang tak jarang aku langsung menghapus sms yang baru masuk kalau isinya tak jauh berbeda dengan sebelumnya, atau kalau aku tak mungkin menghadiri acara itu.

Masih ada satu materi praktikum lagi yang mesti dikerjakan. Menunggu media biakan bakteri mendingin dan menunggu pengamatan dengan spektrofotometer. Masih dengan perasaan yang aneh dan tak percaya, aku menghampiri si pemberi kabar. Dia mengangsurkan pesan di BBnya, dari mahasiswa Departemen Matematika. Tak lama, ponselku bergetar, 
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
telah berpulang ke Rahmatullah teman seperjuangan kita
Rifdah Izzatunnisa (Ilkom 46)
karena kecelakaan motor.
menabrak truk. jasadnya sudah dibawa ke PMI
Perasaan ini entah kenapa begitu aneh, tenang, atau bahkan otakku terlalu bingung mencerna kabar ini?

Minggu, 11 Maret 2012

(bukan) Hafalan Shalat Delisa

Hari ini aku ada acara Mabit bareng temen LPQ. As closing kita makan-makan plus! (plus sesi taaruf maksudnya) Ada satu cerita yang menurut aku paling menarik.. 


*bener-bener langsung "ditumpahin" di marii 
Just Cekidot.. 




Hasna

Lahir di Pasar Minggu, di Lenteng Agung. Jadi lahirnya itu dulu di dukun beranak. Jadi lahir Agustus, pas bulan liburan, jadi ortu abi khan di Pasar Minggu, oh ya Hasna anak kedua, jadi liburan sama kakak. Nah, jadi lahirnya itu sebenernya belum waktunya. Jadi cari yang terdekat. Jadi “Misyi” (panggilan buat temen) itu punya kenal n dukun beranak. Tapi dulu tinggalnya di bekasi di Husnayain. Jadi awalnya mau dikasih nama Husna, tapi Husna udah banyak. Nama pertama itu Afifah Thohiroh. Hasna itu artinya cantik, kalo Shiddiqoh itu Jujur. Oh ya, Hasna anak kedua dari tujuh bersaudara. Kak Afifah beda dua tahun, sekarang di Mesir, udah nikah, punya anak 1. Jadi dia itu paling hebat, tamat SD tamat 30 juz. Jadi abi itu percaya sama anaknya kalo udah ada al-Qur’an di dalamnya.

Kalo Hasna biasa aja. Kalo kakak dari kecil kalo ditanya dijawab yang aneh-aneh gitu. Perawi hadits, blablabla gitu. Kalo Hasna dulu Tknya 3 atau 4x gitu, soalnya ga suka dijemput. TK pertama itu deket rumah, kalo dijemput, Hasna selalu udah pulang duluan. Trus dipindah ke yg jauh, biar ga bisa asal pulang sendiri, di TBZ (Thoriq bin Ziyad). SD juga di TBZ. SD cawu 3 pindah ke Aceh, dan itu udah punya 4 saudara, yang ke5 lahir di aceh. Jadi selisihnya itu 2 tahun-2 tahun. Awalnya ga mau pindah ke Aceh soalnya lagi konflik, tapi abi percayain anaknya kalo di aceh itu enak, polisinya pake jilbab, rumahnya bagus. Dan ternyata pas sekolah temen-temennya pada ga pake jilbab, beda sama sekolah yang lama, kita kecewa, tapi abi ngasih pengertian kalo itu SMA negeri dan lagi konflik. Hasna ama kakak di Min teladan. 

Kelas 6 SD ada kejadian Tsunami, jadi pindah ke Jakarta lagi, ke TBZ lagi. Tapi abi ada tugas di Aceh, jadi abi ga pindah, kakak mondok di Yapid. Trus umi balik lagi ke aceh, katanya ditemukan anak, tapi ga ada ortunya. Dan syaratnya itu harus punya air susu. Jadi di Jakarta itu tinggal Hasna sama ka Afifah. Trus ditanya abi, mau ke Aceh atau gimana? Jadi akhirnya Hasna sama kakak balik ke Aceh, di pesantren kakak juga, di Daarul Hijrah. Awalnya masih bagus, tapi pasca tsunami jadi ga kondusif lagi. Kakak tamat disana sampe lulus. Tapi angkatan Hasna Cuma 18 orang, jadi ga sampe tamat disana, terus ditanyain abi mau lanjut atau pindah ke SMA unggul? Tapi Hasna ga yakin lulus, soalnya disana itu pinter-pinter semua. Jadi pondok Hasna itu istilahnya “syurga di dalam hutan” soalnya letaknya di dalem hutan.

Minggu, 19 Februari 2012

Yang Beda dari Libur yang Lainnya


Selama liburan sebulan kemarin aku sedikit disibukan dengan kepindahan rumah. Bukan disibukan juga sih, mungkin lebih tepat dikatakan sebagai pengalaman yang cukup berarti.

Beberapa hari setelah datang ke rumah tiba-tiba Umi bilang kalau akhir bulan ini sudah harus pindah. Bingung, sedikit ga percaya, aku agak acuh. Ya, rasanya seperti ada orang yang bilang kalau ada tsunami padahal kita tinggal sangat jauh dari laut. Angin lalu. Dan anehnya sekeluarga pun tenang-tenang saja. Beberapa hari berlalu, aku tahu bahwa kabar itu benar.Tapi yah, mau bagaimana lagi? Bukankah hidup tetap harus berjalan? Umi tetap menjalankan aktivitas dakwahnya seperti biasa, begitupun Abi. Hanya saja, aku yang sudah terlanjur berjanji menemui teman di luar kota terpaksa batal. Masa iya aku yang anak pertama lantas pergi main padahal kondisi rumah lagi kurang stabil begini? Kalau Umi-Abi itu beda urusan, karena sejatinya setiap kader itu milik ummat bukan?

Delapan hari menjelang kepindahan, malam ini Umi mengajak aku dan adik laki-laki pertama aku datang ke calon rumah baru. Tidak terlalu jauh dari rumah saat ini, tapi cukup berkelok. Kata Umi, “Sayang grup pengajian yang sudah dibentuk disini kalau Umi pindah jauh bisa jadi balik lagi kaya dulu,” Jawabnya saat aku bertanya alasan Umi tetap bertahan dengan daerah disini.

Minggu, 12 Februari 2012

Taushiyah...singkat saja


Sekelumit taushiyah dari ustadz Asep Nurhalim Lc. di MusGen Perdana LPQ Al-Hurriyah.

Pada suatu majelis, Umar bin Khaththab mengundang Abdullah bin Abbas untuk ikut ke mejelis tersebut.
Dalam majelis itu dibahas surat An-Nasr dan ditanya kepada para peserta majelis maksud yang terkandung dalam surat tersebut.
Hampir semua yang ada dalam majelis tersebut memaknai bahwa dalam surat tersebut diperintahkan untuk bertasbih, bertahmid, dan beristighfar ketika mendapat kemenangan. dan yang paling ditekankan adalah istighfar.
Dan ini merupakan surat terakhir yang turun secara lengkap. Surat ini turun pasca Fathu Makkah (sebuah kemenangan yang sangat spektakuler). Setelah terusir dari Makkah (tanah lahir) umat Muslim kembali menguasai tempat ini, dan istimewanya tanpa ada satu tetes darah pun yang tumpah. Pada saat itu, umat Islam datang dari segala penjuru. Orang-oerang Quraisy telah pasrah, mengira bahwa akan di aniaya sebagaimana mereka menganiaya umat islam pada masa sebelumnya. Namun, Rasulullah malah mengatakan bahwa mereka dibebaskan. Sehingga kaum Quraisy dengan rela hati masuk Islam.

Selasa, 24 Januari 2012

Pesan Moral dan Pencitraan Bangsa dalam Sinetron Indonesia

Ini udah masuk minggu kedua aku di rumah. Dan yang paling kerasa bedanya adalah Suara TV. Entah sejak kapan suara "kotak ajaib" ini jadi terasa mengganggu. Padahal waktu jaman SD aku sering banget nonton TV. Dari film kartun -anime-, waktu itu masih jamannya Minky Momo, Hikaru No Go, Inuyasha, Kindaichi. yang masih lumayan bagus lah... Aku juga demen nonton model-model FBI, Xena, Hercules, dan bahkan pernah bela-belain bangun jam 2 pagi dan diem-diem nyalain TV cuma buat nonton serial mingguan "Charmed" --ada yang tau?-- yang entah asalnya dari negara mana..
::Tautan

Senin, 16 Januari 2012

Memandang Nikmat dengan Teropong Semut

Beberapa puluh jam yang lalu sempet ngobrol-ngobrol sama temen, sebenernya cukup random juga yang diomongin, tapi okelah, let's see... sebut saja kami membahas nikmat.

Sebelumnya, ada yang bisa nebak kenapa saya membuat judul "Memandang Nikmat dengan Teropong Semut"? Kenapa teropong semut? memang semut punya teropong? memang ada teropong yang terbuat dari semut?
Ayo, ayo... ada yang tahu?

Rabu, 14 Desember 2011

Perbedaan yang Membuat Kita Sama

Waktu di pondok dulu aku inget kalau pemilihan pengurus, atau panitia suatu kegiatan berdasarkan pertimbangan akhlak yang tercermin lewat poin pelanggaran. Perbedaan di sana ada pada seberapa besar poin tersebut. Karena secara penampilan memang satu dengan lainnya tak terlalu berbeda.

beberapa saat yang lalu, seorang teman bercerita, "Apa gue ga mungkin ada di posisi itu kalo jilbab gue ga gede?"

Ah, kenapa selalu begini. Apa yang salah tentang perbedaan. Akhwat-ikhwan. Cewek-cowok. Kadang aku juga ga ngerti apa yang ngebedain mereka. Kalau cuma sekedar penampilan,