Tampilkan postingan dengan label Zeta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zeta. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juli 2014

Sama Rasa

"Rasa dalam hatimu masih saja awet?" Tanya seorang teman.

"Ngg... Sudah hampir 2 tahun sepertinya." Jawabku setengah menggumam. "Dan anehnya ia tetap ada, meski rasanya tipis...sekali. Baik 2 tahun lalu atau sekarang, ia tetap ada dengan kadar yang sama. Tak hilang, tapi juga tak mekar sempurna."

"Tentu saja. Sebab kalian berdua sama-sama berkembang. Sama-sama maju ke arah yang sama. Sama-sama masih satu jalan.
Tentu saja wajar kalau masih ada!" Tegasnya lagi.

"Hmm... sebab jika salah satu dari aku atau dia berhenti mungkin rasa itu akan kikis ya?" Aku mulai mengandai. "Jika dia yang berhenti, aku akan takut dia tak lagi sejalan. Jika aku yang berhenti, ia akan tampak jauh dan tak tergapai. Dan jika itu terjadi, maka aku akan belajar berhenti menyimpan rasa."

Temanku mengangguk.

"Hanya saja..." batinku, "hal terpentingnya bukan hanya itu. Pertanyaannya adalah... apakah aku dan dia juga sama rasa? Sebab meski kita sama jalan dan sama berkembang, tapi berbeda dalam hal rasa, maka segalanya usai."

Aku tersenyum tipis. Membiarkan segala gundah diterbang angin.
"Biar Allah yang menggores ceritanya, kita hanya bisa berharap, berusaha, dan belajar ikhlas terhadap apapun yang jadi ketentuan-Nya"

Selasa, 18 Februari 2014

100 Menit dalam Rahim Ular Besi

100 menit. Bahkan seringkali tak sampai 100 menit. Ini waktuku. Ada guncang kecil sesekali. Tapi tak pernah cukup mengganggu. Ini 100 menitku yang seringkali tak sampai sebulan sekali bisa kunikmati.
100 menitku dalam rahim ular besi.

Ada suara-suara absurd berirama. Ada guncang kecil yang melenakan. Tapi 100 menit ini sungguh cukup buat jadi cadangan energi hingga 3 bulan ke depan.
Dalam rahim ular besi, aku bebas bicara dalam baris kata yang jatuh lewat ujung jemari. Bebas pula berpikir tentang hari lalu, dan nanti. Jerat jahat yang membungkus akal sehat terurai perlahan di tempat ini. Bersama terbangnya rindu yang tak terbayar. Dan harap yang tak tergarap.

Juga bebas berpikir tentang kamu. Seseorang yang biasa kusebut Zeta. Kamu tak selalu muncul. Tapi sekali kamu tiba, seringkali rasanya cukup menepis ragu. Tentang apa saja. Tentang tempat berdiri yang tak kuharap. Tentang kesendirian yang belakangan mulai mengganggu. Tentang duga yang membuat bibir kelu.

Kamu tak bicara, hanya binar semangat yang hadir di matamu itu... rasanya meletupkan sesuatu yang mengempis di dalam sini.
Aku juga tak perlu bicara bagaimana sesekali aku mengharap kamu jatuh tak sengaja di retinaku. Tapi bagaimana? Aku juga telah berjanji tak membiarkan bayang imaji menguasai. Hanya khawatir dengan segala euforia yang biasanya hadir kemudian.
Jadi bagaimana? Biar Tuhan lagi yang menerima segala titip harap yang muncul malu-malu. Hingga nanti. Hingga nanti jika semuanya memang digariskan begitu adanya.

Kamis, 19 Desember 2013

Zeta

Pagi, Zeta.
Tampaknya hari selalu pagi ya bagimu. Aku menyadarinya dari caramu menghadapi segalanya sepanjang hari. Kamu memang bukannya tak pernah lelah, tapi bahkan caramu lelah malah membuatku semakin semangat.
Tak apa ya kau kusebut Zeta? Hanya sekedar harap agar kamu jadi pertama dan terakhir, seperti huruf A dan Z dalam abjad yang telah kita hafal sejak lama. Hahha..
Sisanya? Biar kita bariskan nanti saja. Kita isi penuh-penuh agar segalanya semakin bermakna.
Lagipula, nama itu sepertinya cocok untukmu yang selalu bersemangat. Yang seakan selalu memaknai akhir sebagai awal yang baru.
Hei,
Aku benar-benar tak tahu ingin bicara tentang apa.
Jadi, biar kukirim doa saja ya. Semoga harimu selalu pagi, semoga harimu tak pernah benar-benar malam.
Tetap berbakti dan semoga Allah menjaga kita dalam jalan ini. Dan semoga...suatu waktu kita bertemu lagi.