Jumat, 26 Oktober 2012
Rabu, 17 Oktober 2012
Terjebak
remah-remah roti yang disebar dua anak yang diusir
gagak lapar tak ragu mematuknya
semut, dan binatang kecil lain turut berlomba
dua anak tersasar hingga rumah yang mengundang lapar
nenek baik hati menyapa dan melayani
dua anak kenyang tak sanggup menahan kantuk
terbuai dalam mimpi, terbangun dalam bui
dua anak dibuat gemuk biar bisa jadi lauk
nenek baik jadi jahat tak terelak
rumah enak sekarang jadi muak
dua anak memutar otak
saatnya keluar memberontak
Selasa, 09 Oktober 2012
Paused
"Berhenti sejenak"
Berkali-kali terfikir tentang ini. Saat segalanya mulai tak sejalan dengan perkiraan. Berat. Memang.
Lalu saat kejenuhan itu rasanya mulai tak tertampung lagi, seperti gelas yang terus menerus diisi air, semakin lama ia akan kelebihan muatan. Lalu?
Ya, tumpah...
Rasanya ingin berhenti sejenak. Gelasnya terasa begitu keruh. Terisi dengan berbagai hal yang menghijab cahaya. Ya, pekat..
Namun, seringkali Sang Pengamat tak sejalan dengan apa yang kita mau. Yang melihat dari ketinggian tentu saja tahu bahkan kepada detil yang tak dapat kita lihat. Saat itu, tiba-tiba tersadar bahwa manusia begitu kecil. Terlalu kecil untuk tahu gambaran keseluruhan jalan hidup ini. Terlalu kecil untuk dapat melihat apa yang ada di balik gunung besar masalah yang saat ini terpancang di depan kita. Tapi Allah yang berada pada ketinggian, pasti mampu melihat apa yang dihijabi gunung besar itu. Maka Ia bisa memberi kita sesuatu yang dapat membantu kita. Meski, akan ada lebih banyak energi yang dibutuhkan. Akan lebih banyak waktu yang dikorbankan.
Berhenti sejenak.
Dan mengembalikan diri ke zona nyaman?
Tak jarang nasihat itu datang, "Lalu, setelah kamu berhenti, apa kamu yakin akan dapat kembali lagi, dan menjadi lebih baik?"
Lalu Allah "memaksa" gelas itu untuk dapat menampung lebih banyak air. Menuangkan banyak kesibukan alih-alih membuat kita berhenti bergerak. Tapi "air rabbani" pastilah jernih. jadi, kita hanya perlu terus maju, dan membiarkan Allah menuangkan lebih banyak air jernih ke gelas kita yang keruh. Suatu hari, air keruh itu akan menjernih perlahan.
Belajar, tak harus mengulang segalanya dari awal. Tak harus berhenti untuk mengkaji. Kita bisa belajar sambil mengajar. Bisa membaca sambil berjalan.
Satu hal yang pasti....
Saat segalanya terasa berat, kembalikan lagi segalanya kepada Pemiliknya.
Ganbatte ne~~
Kamis, 13 September 2012
Kali ini, untuk hal yang sulit dikatakan
"Ikhlas itu ada tiga : di awal, tengah, dan akhir."
"Sabar itu tak berbatas..." seharusnya begitu. bagaimanapun aku ingin percaya dan selalu mencoba yakin bahwa memang sabar tak berbatas... namun... apakah ia tak bisa terganggu?
"Kak, bagaimana kalau tiba-tiba keikhlasan itu terganggu?" tanyaku ragu.
"Muraqabatullah" jawabnya, sederhana.
Sesungguhnya aku bukannya tak tahu, hanya kadang...saat ada sisi hati yang sedikit tersinggung, yang terjadi malah sebaliknya. Ketika pengorbanan rasanya tak terlihat memberikan hasil. Ada sisi hati yang mulai ragu ... "salahnya dimana?", lalu ketika kesalahan tak ditemukan dalam diri sendiri, malah kecewa yang hadir, "kenapa ia tak kunjung menunjukkan peningkatan?"
Lalu rasa lelah mulai merayap...perlahan-lahan. menggerogoti hati yang susah payah dijaga biar tak keruh.
Aku sempat berfikir untuk pergi.
Banyak hal kalau mau dijadikan alasan. Semakin hari alasan itu pun semakin banyak dan terasa menguat.
Duh Allah... Duh Rasul...
lantas, salahkan aku?
perih di dalam sini, bukannya tanda bahwa ada hati yang tergores? luka kecewa? atau dosa karena berburuk sangka?
Langganan:
Postingan (Atom)

