Kamis, 09 Mei 2013

[random post] "Gue Salah"

"Allahumma inni a'udzubika minal 'ajzi wal kasal, wa a'udzubika minal jubni wal bukhl, wa a'udzubika min gholabatiddayni wa qohri rijaal"

Sebenernya gue sadar sesadar-sadarnya kalo ada yang salah sama gue. Sadar banget. Tapi gue pura-pura ga tau. Gue pengen ada orang yang nanya, "Lu kenapa?". Tapi jarang banget ada yang nanya. Terus dulu pernah ada yang bilang kalo orang ga akan paham kalo kita ga ngomong, dan gue sadar kalo gue itu susah buat dipahami. Jadi gue belajar buat bilang hal yang gue pengen orang paham tentang gue. Tapi ternyata, gue masih salah. Hahha...

Kadang gue mikir kalo sebenernya gue ga butuh orang lain. Tapi gue ga suka kalo ada yang salah paham sama gue. Tapi ternyata gue masih salah. Hahha... Salah gue adalah gue ga bisa ngomong secara lugas. Gue tahu banget. Dan gue pun bukannya ga usaha buat ngomong lugas. Tapi usaha gue sepertinya nol. Ketika gue  coba ngomong lugas, hasilnya berantakan, tata bahasa gue kacau. Kaya postingan ini. Ketika gue coba ngomong dengan lebih rapi, orang ga paham maksud gue, kaya beberapa postingan gue sebelum ini. Oke, gue masih salah. Hahha...

Terus kemarin gue memaksakan orang buat paham gue. Gue juga tahu itu salah. Tapi entah kenapa gue ngerasa gue lagi butuh orang buat denger otak random gue. Kemarin gue ngerasa kesalahan gue banyak banget. Dan gue ga sanggup buat denger diri gue terus nyalah-nyalahin gue. Otak gue terus bilang kalo gue salah, dan kalo gue bilang itu pake mulut gue sendiri, sumpah, gue takut. Jadi yang keluar selalu hal yang beda dari yang gue maksud. Gue nyalahin orang, nyalahin keadaan. Dan gue ga sadar kalo gue nyalahin itu semua. Gue pengen nanya, tapi gue ga nemu ada kalimat pertanyaan di otak gue. Jadi gue ceritain kondisinya. Gue harap orang bisa paham yang gue butuh kalo gue ceritain kondisinya. Dan disini, gue salah lagi. Oh my... tahu ga, rasanya gue pengen masuk kelas yang bisa ngasih tahu gue caranya ngomong. Atau ada alat otomatis yang bisa memvisualkan apa yang gue pikirin, apa yang gue maksud.

Tahun ini, orang-orang di sekitar gue punya karakter yang keras. Dan gue selama ini ga pernah dikerasin. Wait, gue bukan mau ngeluh ini. Gue cuma mau bilang kalo ada sedikit perasaan senang karena gue ngerasa ini hal baru. Gue nangis dan kadang gue kesel. Tapi di sisi lain gue seneng, karena itu artinya gue dikasih hal baru yang mesti gue hadapi. Mungkin di masa depan gue bakal ketemu orang yang jauh lebih keras dari sekarang, dan Allah nyiapin gue lewat orang-orang yang sekarang ada di sekitar gue. Jadi, gue mesti bisa ngadepin orang-orang ini, mesti bisa ngeliat matanya, dan mesti bisa santai ketemu mereka. Gue tahu. 

Terus gue pengen cerita ke orang tentang hal itu. Tapi gue bingung. Ga mungkin kan gue bilang, "Ya Ampuun.. Tadi ada orang galak sama gue terus gue takut sampe deg-degan dan pengen nangis lho...!! Dan gue seneng banget!!" dengan intonasi kaya orang bilang, "Ya Ampuun.. lu tau ga? tau ga? Gue menang undian ke Singapore!!!" ditambah mata berbinar-binar dan lonjak-lonjak. 
Kalo gue bertingkah begitu, kemungkinan pertama, orang bakal ngira gue becanda. Kemungkinan kedua, orang bakal ngira gue stress akut sampe nyaris gila.
Nyatanya : Gue emang seneng dengan masalah baru, tapi ga mungkin kan gue curhat dengan bahagia? Itu aneh.
Terus gue pengen nanya apa? Cara ngehadapin orang itu? Terus gue mesti bilang, "kalo orang galak, gue mesti gimana?" Kaya pertanyaan anak SD. Dan gue sendiri pun udah tau jawabannya. Jadi gue mikir, buat apa gue nanya? Toh jawaban orang lain seringkali klise. Hampir selalu malah.

Terus (lagi) kemarin ada orang yang (akhirnya) bilang sama gue dengan jujurnya setelah ngediemin gue lama. Gue lupa apa persisnya, tapi yang gue tangkep adalah dia bilang kalo gue jangan terlalu sering ngeluh, dia bosen karena intensitas curhat gue yang ketinggian, bahasa gue kalo cerita bikin dia bingung, dan entah apalagi. Dan mungkin yang gue tangkep beda sama yang dia maksud. Gue nangis dua hari karena tiga hal: 
Pertama karena yang dia omongin bener. Karena kalo orang ngomong hal yang ga gue anggap bener gue bakal acuh dan bodo amat. Tapi karena yang dia omongin bener dan yang dia omongin adalah hal yang selama ini gue tepis, jadi gue nangis. Tapi ga masalah, dan harusnya gue bilang "Makasih"
Kedua, karena ternyata gue belum maju juga. Hal kaya gini itu bukan pertama kalinya gue rasain. Jadi kalo gue ngerasain lagi, artinya gue belum ada kemajuan.
Ketiga, karena entah dasar apa gue ngerasa gue ga boleh cerita lagi sama orang itu. Dan gue tahu gue salah tentang alesan ketiga. Tapi tetep aja gue nangis.

Terus gue kepikiran doa yang tadi gue tulis di atas. Gue salah, ya gue salah. Karena beberapa waktu kemarin itu cerita sama orang sama sekali ga bikin perasaan gue lega. Malah makin bertumpuk. Harusnya gue sadar lebih cepet kalo yang gue butuh itu bukan telinga manusia buat denger gue. Ketika gue bilang gue sanggup sendiri, maksud gue bukan diri gue sendiri. Tapi gue punya Dzat yang Paling Keren sejagat raya yang selalu mampu ngasih gue energi. Yang selalu mampu negakkin punggung gue lagi. Yang selalu mampu ngasih gue jawaban. Toh sebelum gue deket sama orang, Dia selalu ngasih gue jawaban dengan cara-cara yang juga bikin gue terhibur.
Jadi, gue mikir kalo gue ga butuh orang lain...
Dan jujur, gue ga tahu pikiran gue ini bener atau ga.

Tapi, senggaknya, akhirnya gue bisa bilang kalo "Gue Salah." It's more comfortable ternyata kalo gue bilang gue salah ke diri sendiri atau tulisan. Karena dia ga akan bersuara dan bilang, "Iya Nath, lu emang salah!" Kata "emang" itu kadangkala ngeselin. Hahha...

Oke, cukup postingan random dan egoisnya. Hahha 
Semoga saya jadi semakin ringan dan bisa bergerak cepat setelah ini. 
^^

Senin, 06 Mei 2013

Make Your Choice



Pilihan akan datang, dengan atau tanpa kita memilih

Saat kita tak mampu memilih, maka orang lain yang akan memilihkan untuk kita. Saat kita terlalu takut untuk memutuskan, maka orang lain yang akan memutuskan. Saat kita terlalu nyaman untuk berhenti, maka orang lain yang akan menghentikan. Semuanya sederhana. 

Saat zona nyaman terlalu lama membalut hari-hari kita. Hingga sadar ataupun tidak kita terlaru larut di dalamnya. Seperti garam dan air. Hingga meskipun sadar, tapi kadang terlalu masa bodoh. Berpura-pura seakan tak ada yang salah. Berpura-pura tidak tahu. Maka orang lain yang akan memaksa kita untuk berhenti.

Sebab tanpa sadar memang itulah yang kita harap-harapkan jauh dalam hati. Hanya terlalu cemas untuk mengakui. Saat kita ingin berhenti dari langkah yang lama. Tapi terlalu takut untuk berhenti dengan kaki sendiri. Tuhan punya cara lain untuk menjawab doa. Orang lain mungkin tak tahu, tapi Tuhan tahu, dan tak ragu untuk menjawabnya. Sebab mungkin Ia tahu bahwa itu yang baik untuk kita.

Saat kita terlalu takut keluar dari zona nyaman kita, maka dengan cara-Nya, melalui perantara orang lain, Ia akan mengeluarkan kita dari sana. Demi kita sendiri, untuk kebaikan yang kita pun tahu. Hanya saja, kadangkala caranya membuat kita sedikit mengeluh. 

Jadi, tenanglah... Ia hanya menjawab apa yang kita butuh.
Jadi, tenanglah... sebab sesungguhnya kita telah siap untuk maju.
Jadi, tenanglah... sebab Tuhan kita tak pernah berlalu.
Jadi, tenanglah... berhenti mengeluh, lalu percepat langkahmu.
Jadi, tenanglah... dan tetap tersenyum, karena sesungguhnya Ia tahu kita mampu.



Jumat, 26 April 2013

Langit Malam, Apa Kabar?

Langit malam apa kabarnya?
Ada sepotong cerita yang masih menunggu
Ada berjuta part-part kisah yang menumpuk
Aku rindu saat kita bercengkrama
Berdiam diri dalam balutan angin malam
Berkata tanpa suara

Langit malam apa kabarnya?
Ada cerita-cerita yang menunggu untuk disampaikan
Ada banyak lagu buat kita nyanyikan
Aku masih menunggu
Saat hembus anginmu tak seberapa deras
Saat gemintang mulai perlahan terlihat

Langit malam apa kabarnya?
Saat aku bilang "rindu"
Tak berarti waktu telah lama mencipta jarak antara kita
Ada sesuatu yang bukan raga lama tertidur dalam dirimu
Binar-binar jenaka, dan sapa sederhana
Mungkin sesuatu semacam itu

Langit malam apa kabarnya?
Melihatmu berhenti bertiup, seringkali terasa janggal
Melihat semilir derasmu, seringkali ingin mengulurkan tangan
Aku suka caramu hidup, meski kadang tampak melelahkan.
Tapibinarmu menguat saat kau bergerak.

Jadi,
Langit malam apa kabarnya?
Selamat bergerak dan menikmati ceritamu
Lain kali, saat semilirmu tak begitu deras..
Aku menunggu... ada cerita yang mau kubagi.
Tapi, nanti saja

Kamis, 11 April 2013

Unggas Kecil dan Metamorfosa Bintang

Kali ini aku mau cerita tentang orang yang selalu aku lihat sebagai bintang. Mereka mengerjap. Sejak lama, seakan memang terlahir untuk jadi bintang. Sinarnya saat ini memang kecil jika dibandingkan cahaya yang aku lihat akan lahir dari mereka bertahun-tahun lagi dari sekarang. 

Entah kenapa aku selalu percaya bahwa orang lain mampu untuk menjadi seseorang yang luar biasa. Mereka punya "cahaya" dalam dirinya yang menunggu untuk terluapkan. Mereka "bintang kecil", yang bertahun lagi dari saat ini akan bermetamorfosa jadi "matahari".

Mereka itu orang-orang yang terlihat bersinar di mata kecilku. Seakan dunia meng-amin-i setiap tapaknya. Orang yang mampu mengatur banyak hal. Bersinar perlahan dan semakin terang setiap harinya. Tapaknya semakin tinggi setiap harinya. Mungkin jika suatu hari mereka muncul di tempat yang "jauh" pun, bukan hal yang mustahil.

Kadang, ada saat dimana aku merasa jadi unggas kecil. Terbang perlahan untuk menyapa langit. Semakin tinggi mendekati langit. Tapi langkahku pelan. Atau mungkin aku yang tak menyadari bahwa aku juga punya potensi?

Kadang, ada saat dimana aku merasa mampu melakukan segala hal sendiri. Unggas kecil itu merasa, semakin kuat ia mengepakkan sayapnya, akan semakin tinggi jarak terbangnya. Akan semakin dekat ia dengan langit. Semakin dekat ia dengan bintang kecil, dengan matahari. 

Tapi, di saat yang sama ada perasaan yang terselap. Memblokir segala optimis yang unggas kecil bangun. Tak semua hal mampu ia lakukan. Tak mesti ia harus mampu melakukan segalanya. Lalu unggas kecil itu belajar menutup mata. Bertanya pada dirinya, apa yang paling mampu ia lakukan?
Ada memang. Barang satu atau dua. Hal sederhana. Tapi unggas kecil merasa tak akan cukup untuk mengimbagi bintang kecil. "Masih jauh", batinnya.

Matahari itu tegap, tegas, dan bersinar. Ada kalanya unggas kecil itu juga ingin menjadi matahari. Tegap, tegas, dan bersinar. Juga dapat diandalkan. Unggas kecil itu seringkali hanya ingin mampu berguna buat sebanyak-banyaknya makhluk yang bisa ia temui. Tapi unggas kecil mungkin tak pernah mengungkapnya, atau kalaupun pernah hanya kepada dirinya sendiri. Unggas kecil ingin terbang, tinggi....sekali. Juga cepat. Agar ia bisa melihat banyak hal dan datang dengan sigap. Tapi itu hanya dalam ruang batinnya. "Masih jauh," batinnya lagi.

Ada kalanya unggas kecil merasa bingung. Ia hanya ingin membantu, tapi tak pernah tepat sasaran. Beberapa bilang unggas kecil terlalu baik, terlalu berlebihan. Ya, unggas kecil memang belum sematang bintang kecil dalam membaca situasi. Jadi, berkali ia menahan diri dan mengambil waktu untuk mengamati, lalu berjalan perlahan. Seperti anak kecil yang belajar berlari. Ia tahu langkahnya lambat. Dan pada saat itu mungkin bintang kecil sudah semakin bersinar, metamorfosanya semakin mendekati akhir.

Ada hal yang unggas kecil khawatirkan. Bintang kecil yang berubah jadi matahari dan unggas kecil masih tak kunjung terbang tinggi. Ada hal yang tak kan mampu ia lakukan dari tempat yang rendah, karena itu unggas kecil ingin terbang tinggi. Tinggi....sekali. Hingga ia mampu melihat apa yang tak terlihat dari bawah.

Ada hal yang unggas kecil khawatirkan. Bintang kecil berubah jadi matahari dan unggas kecil masih berada di bumi. Lalu bumi berputar, malam datang, dan unggas kecil kehilangan matahari yang tengah memberi di sisi lain bumi. Unggas kecil ingin terbang jauh. Jauh...sekali. Hingga jarak tak lagi jadi pembatas.

Unggas kecil hanya ingin mampu memberi sebanyaknya. Meski kadang ia tak tahu seberapa banyak yang mesti diberi. Unggas kecil hanya ingin mampu memberi sebanyaknya. Meski kadang ia tak tahu bagaimana caranya. Unggas kecil hanya ingin mampu memberi sebanyaknya. Meski kadang ia tak tahu apa yang ia punya.

Kadang, unggas kecil ingin jadi matahari. Tapi berkali ia tahu diri, ia bukan bintang. Meski berkali pula ia tak peduli. Ia mau jadi matahari. Tapi ia tak tahu sinar macam apa yang bisa ia berikan pada bumi kalau ia jadi matahari. Unggas kecil mau tumbuh, mau berkembang, mau bersinar. Tapi ia butuh sesuatu...yang tak pernah bisa ia katakan. Jadi, diam-diam ia mencarinya sendiri. Meski berkali pula ia ragu. Mampukah?