Rabu, 08 Januari 2014

Simpang Tiga

Pada akhirnya kita sampai sudah di persimpangan
Akhir dari jalan yang telah kita pilih sebelumnya
Yang juga mula dari jalan yang akan tiba

Kita diam sejenak,
Mencoba mencerna semesta tentang maksudnya
Mencoba meraba semesta tentang berita di depan sana
Mengamat padang ilalang yang sempurna menutup ujung jalannya
Mengamat rimbun pepohonan dan suasana yang tersangkut di rantingnya

Kita menatap lekat papan penunjuk arah
Mencoba menelisik makna dari kata yang tak seberapa
Kita hampir tanpa peta

Kamu menunduk sejenak, lalu melepas pandangmu ke langit.
Sebuah keputusan.
Kepalmu menguat, senyummu meruak

Di simpang tiga.
Kau pilih satu jalan
Aku yang lainnya
Ini bukan pertaruhan benar-salah
Selama tuju kita sama, percaya saja tentang pertemuan di muara
Kita menuju tempat segalanya bermula

Juga...
Percaya saja bahwa 'ada' tak mesti selalu 'tampak'
Kamu pula yang mengajari
tentang arti menopang tanpa bergenggam jemari

Di akhir cerita,
Kamu akan tahu bahwa kekhawatiranmu tak nyata
Di akhir cerita,
Kamu akan tahu bahwa kita bisa lari dengan tempo yang serupa

Minggu, 29 Desember 2013

Rendang

Kadang, untuk mendapatkan sesuatu yang kita mau, kita mesti bertahan di tempat yang tak kita nyamani.

Hei, selamat sore Kinara. Percikan hujan sore ini seperti melarutkan sampah hati yang mengendap. Agak ringan rasanya..

Ini hari yang penuh, Kinar...
Akhir dari sesuatu, berarti mula bagi sesuatu yang lain. Tongkat estafet telah dipergilirkan. Tapi lomba ini bukan tentang siapa yang paling CEPAT mencapai finish. Tapi tentang seberapa JAUH pencapaiannya. Ini tentang kualitas kita, bukan sekedar kuantitas masa.

Hei, Kinar...
Aku percaya tentang garis takdir. Bahwa Allah membawa kita ke tempat yang terbaik menurutNYA. Melalui jalan yang paling tepat menurutNYA. Lalu, bukankah tak masalah jika sekali waktu kita diletakkan di tempat yang kita tak mau. Karena bukankah boleh jadi apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurutNYA? Pun sebaliknya...

Tapi tak lantas ini pembenaran bagi kita untuk diam, dan menyerahkan "semuanya" pada yang lain. Ungkapkan dengan cara apapun yang kita mampu. Bicara. Kalau toh tak bisa dengan cara yang lainnya.
Setiap kita punya hak memilih kan? Kalau sudah memilih dengan baik, menyampaikan, dan hasilnya berbeda.... mungkin Allah tengah persiapkan sesuatu buat kita.

Hei Kinara, kamu tahu rendang?
Masakan olahan dari daging yang biasa di warung padang.
Coba tentukan siapa tokoh utamanya. Dagingnya atau rempahnya?

Mungkin akan ada satu waktu, kita menganggap daging adalah tokoh utamanya. Lalu kita bersiap, memilih, dan menyampaikan bahwa kita ingin menjadi daging dalam masakan rendang. Namun keputusannya kita menjadi rempah atau bumbu, lalu kenapa?
toh rendang tanpa rempah tak akan jadi rendang.
Bahkan meskipun, meskipun kita hanya sejumput garam, hal ini sungguh memiliki peran, sungguh membuat perbedaan.
Namun hanya bila, hanya bila kita memberikan yang terbaik dalam peran kita. Menjadi daging terbaik, rempah terbaik, bahkan garam terbaik yang pernah ada.

Kamis, 19 Desember 2013

Zeta

Pagi, Zeta.
Tampaknya hari selalu pagi ya bagimu. Aku menyadarinya dari caramu menghadapi segalanya sepanjang hari. Kamu memang bukannya tak pernah lelah, tapi bahkan caramu lelah malah membuatku semakin semangat.
Tak apa ya kau kusebut Zeta? Hanya sekedar harap agar kamu jadi pertama dan terakhir, seperti huruf A dan Z dalam abjad yang telah kita hafal sejak lama. Hahha..
Sisanya? Biar kita bariskan nanti saja. Kita isi penuh-penuh agar segalanya semakin bermakna.
Lagipula, nama itu sepertinya cocok untukmu yang selalu bersemangat. Yang seakan selalu memaknai akhir sebagai awal yang baru.
Hei,
Aku benar-benar tak tahu ingin bicara tentang apa.
Jadi, biar kukirim doa saja ya. Semoga harimu selalu pagi, semoga harimu tak pernah benar-benar malam.
Tetap berbakti dan semoga Allah menjaga kita dalam jalan ini. Dan semoga...suatu waktu kita bertemu lagi.

Selasa, 17 Desember 2013

Pulang

Ya, dan akhirnya aku sampai lagi disini. Tempat nyamanku. Setidaknya aku tahu, ketika hingar manusia telah tak sanggup lagi aku dengar, aku masih punya satu tempat dimana nafas kehidupan dapat menyegarkan lagi pikiran yang mulai panas.
Hai Kinara, apa kabarnya?
Lagi, tetap saja Kinara. Hahha..
Sejak ini mungkin aku akan kembali, Kinar. Sebab kembali tak sepenuhnya berarti mundur. Mungkin hanya kembali yang bisa buat tapak kita semakin tegap.
Aku akan agak merepotkan, Kinar.
tenang saja, tentang tangis dan segala hal-hal emosional, mungkin akan kucoba reduksi habis. Sekedarnya. Seperti campuran gula dalam sayur yang kita buat. Selebihnya, biar jadi milikku sendiri.
Hei, Kinar.
Ada satu masa yang lama, dimana aku ya hanya aku. Tanpa perlu peduli dengan sekitar. Lalu manusia, seperti layaknya memang seiring. Kemudian ada masa yang panjang, dimana aku selalu ingin melampaui yang lainnya. Berdiri beriringan paling tidak. Lalu ada sejenak waktu, dimana aku memutuskan 'berdamai' dengan beberapa hal.
Tapi mungkin, kerinduan memang tak cocok berdampingan denganku. Maka biarlah kulipat kerinduan itu dan hanyut bersama alir sungai.
Hei, Kinar...
Memang selalu. Pada dasarnya manusia hanya melihat hasil. Dan tak pernah sungguh mengerti di luar dirinya, meski telah berbusa kita bicara.
Maka, aku sepertinya akan kembali, Kinar... Mencipta dunia tempatku 'pulang'. Karena mungkin memang hanya itu caraku untuk lebih bisa tegak berdiri.
Yep. Selamat pagi, Kinar.
Terimakasih untuk segala waktunya...
(^ ▽^)