Senin, 08 Agustus 2016

"Biar Kuantar"

Ah, hujan baru saja reda. Langit masih menaawarkan aura syahdu. Ada khawatir yang tiba-tiba. Hujan benar-benar telah reda, atau hanya tertahan beberapa jenak saja?

Kamu masih terdiam sejak semalam. Merungut karena aku menghilang hampir seharian. Bahkan kucing pun kalah manja jika perbandingannya kamu. Segelas kopi kusajikan di meja ruang tamu. Matamu masih terpaku pada layar tablet, membaca sederet berita hari ini. Sambil duduk bersandar pada sofa.

"Selamat pagi..." sapaku seraya melingkarkan tangan pada bahumu yang masih saja kaku.
Kamu diam, aku mengambil tempat di sisimu. Menyelesaikan riasan seperti biasanya. Sebotol minyak wangi kuambil dari dalam tas. Aku hampir memakainya ketika kamu menahan tanganku, seraya berkata, "Jangan terlalu banyak," matamu masih saja tak lepas dari layar di tanganmu. "Tanpa itu pun kamu sudah menarik."

Aku menahan tawa. Kamu mengatakannya dengan suara dingin. Kusimpan lagi botol minyak wangi itu. Tidak jadi. Sebuah wedges hitam kupakai dan selesailah sudah persiapan pagi ini.

"Mau antar, atau aku pergi sendiri?" Tanyaku sambil berdiri. Sambil tersenyum lucu dengan sikap diam merajukmu.
Kamu meletakkan tabletmu, menyeruput kopi sedikit, dan pergi. Tak lama suara mesin terdengar, seolah ganti suaramu yang terlalu gengsi untuk sekedar mengatakan, "Mana mungkin kubiarkan kamu pergi sendiri."

Selasa, 19 Juli 2016

Rindu

Rindu itu bukan perkara sederhana.

Memang menyenangkan menanam rindu, menyiraminya perlahan dari waktu ke waktu. Membiarkan ia tubuh subur, lebat, sampai satu waaktu, si empunya rindu datang dan memanen segalanya. Rindu jadi indah bila begitu.

Tapi ada waktu, dimana rindu jadi luka yang menganga. Waktu yang tiba seperti amplas yang mengikis perlahan, membuatnya semakin lebar saja. Air mata yang jatuh berusaha mengisi lubang itu hingga penuh, kesibukan, aktivitas, semuanya sekedar untuk menutup rindu itu rapat-rapat.

Beberapa rindu, tak sempat dijemput pemiliknya.
Tak kan bisa dijemput pemiliknya.

Dan rindu kita salah satunya.
Rindu yang digilas waktu, dan hanya bisa sembuh dengan waktu.

Sabtu, 16 April 2016

Serpih Rasa

Sepuluh jemari
Dua tangan
Setangkup rasa

Yang menelusup lewat celah jemari
Satu-satu
Terbang terbawa angin
Tanpa terasa

Genggam tangan kita
Yang kadang kendur, kadang kokoh
Keyakinan hati dan ragu
Yang berganti-ganti seiring waktu

Meninggalkan kita,
Dan serpihan rasa
Yang diarak angin entah sampai dimana
Bersatu di sudut kota
Atau terpencar selamanya

Sabtu, 09 April 2016

Kebesaran Hati

Beberapa cinta mungkin membutuhkan kebesaran hati
Ketika melepaskan bukan karena kekerdilan niatan
Ketika ketulusan tak hanya sekedar mendatangi
Ketika mengembalikan kepada arus waktu bukan karena tipisnya keseriusan

Sebab kita sama tahu, ada cinta lain yang lebih pantas dijaga
Lebih pantas dari memperjuangkan perasaan kita
Suatu hari, hati kita akan bertemu hati lainnya yang membawa sinar mentari kepada hati
Atau alir waktu kan mempertemukan kita lagi dengan cara yang lebih murni