Kamis, 17 Oktober 2013

"Selamat Pagi, Malam.."

"Selamat Pagi, Malam..."
Akhir-akhir ini tanpa sadar berkali-kali kalimat tersebut terngiang di pikiranku.
Setiap itu pula ada buncah-buncah semangat kecil yang berlompatan dalam dada. Ada gugus-gugus harapan yang merangkai dirinya. Ada naga kecil yang berbahagia. Hahha...

Hal yang paling membahagiakan dalam hidup adalah berhenti sejenak dan menutup mata. Membayangkan bahwa ada sepasang sayap yang tumbuh di punggung. Gagah. Hahha.. Lalu dengan sayap tersebut belajar mengeja semesta. Mencari serpih potensi yang sempat terjatuh. Tapi terbang, dengan sayap putih atau hitam, selalu sempurna dilakukan pada malam hari. Ketika hingar kehidupan mulai meredup dan manusia mulai tenggelam dalam ruang mimpi. Yak! Selamat Pagi, Malam...

Malam selalu mengantarkan kesyahduan. Kebebasan. Sementara Pagi, ketika mentari mulai merekah. Ketika udara dicuci dan menyegarkan kembali. Melahirkan nafas baru. Harapan-harapan baru untuk hari yang baru membuka tirai. Langkah mula dalam 24 jam yang akan kita tapaki.
Jadi, Selamat Pagi, Malam... Sebuah kolaborasi tentang harapan, dan ketenangan.


Jumat, 04 Oktober 2013

Gua Naga

Ada anak naga menggeliat di tempatnya
Anak naga tumbuh besar, gua  lamanya sudah tak lagi muat
tapi pintu keluarnya masih belum ditemukan
Tenanglah... tidurlah anak naga
Semoga besok gua mu sudah lebih besar

Senin, 23 September 2013

A Wedding and Somethink

Hai Kinara,
Hari ini sauh kita terlempar jauh. Kita memgarungi samudera. Memenuhi undangan seorang putri dan pestanya.

Kinara,
Kau tahu kan, seperti perjalanan selayaknya, seringkali hal itu tak mudah. Ya, seperti perjalanan kita hari ini.

Kinara,
Kita memandang sesuatu mungkin dalam bentuk yang sama sekali berbeda. Tapi aku sungguh menikmatinya.
Bagaimana aku terbiasa "menelan" lahar naga. Sementara kamu "menyiramnya". Bahkan seringkali aku lupa kalo lahar naga mesti dan bisa disiram. Atau paling tidak buat naganya nyaman biar dia tidak menumpahkan laharnya lagi. Hahha...

Ada banyak hal yang bermain dalam benak kita, Kinara.
Tentang batasan. Tentang tembok-tembok yang buat kita terdiam. Hanya bermain sampai luas tertentu kotaknya. Tak ada manusia yang tak punya batas, Kinara. Tidak ada. Bahkan meski ia telah menemukan batasannya dan membuangnya. Akan muncul batasan baru. Dan baru lagi. Begitu seterusnya.
Tapi apa lantas kita berhenti, Kinara?
Tidak. Kita sudah berjanji untuk tak berhenti kan?
Tidak. Karena saat satu batasan terbuang, dan muncul batasan baru, itu artinya wilayah bermain kita telah meluas sedikit lagi.

Kita punya batasan, Kinara.
Kita hanya tak punya alasan untuk berhenti membuangnya. Atau memanfaatkannya.

Lalu tentang perjalanan kita?
Beda seperti kau, aku tak pernah tahu cara membuat orang lain membuang batasannya.
Aku hanya bicara pada mereka yang siap mendengarku, Kinara.
Tentang hal itu, sungguh kamu yang lebih tahu.

Jumat, 20 September 2013

Evolution

Kinara, semester ini aku terlalu bersemangat.
Kau tahu, dalam evolusi, bagian tubuh yang sering digunakan akan mengalami penyempurnaan dan semakin matang. Sedang bagian lain yang jarang digunakan akan mengalami disuse, tak terpakai, bahkan hilang.

Tapi aku bukan mau cerita tentang kuliah evolusi,  Kinara...
Aku mau cerita tentang kita. Tentang jalan yang telah kita pilih untuk tapaki.

Kinara apa kabarnya?
semoga tak bosan dengan celotehku yang lebih banyak ampasnya. Hahha...

Kinara,
Di setiap tempat selalu ada seleksi alam kan ?
Kita mempertahankan diri agar kita tak hilang.
seperti evolusi, jika penggiat jalan ini diumpamakan seperti satu spesies yang tengah berevolusi, dan kita adalah satu bagian tubuh dari spesies tersebut, maka seharusnya kita bahagia saat sering "dimanfaatkan". Bukankah itu artinya Allah tengah "menyempurnakan" kita?
sebab saat kita berhenti, dan terlalu lama berhenti. Sejatinya kita tengah menghitung mundur waktu hilangnya kita.